<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Manhaj Para Shalafus Sholih</title>
	<atom:link href="http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://manhajparashalafussholih.wordpress.com</link>
	<description>Menebar Dakwah Para Sahabat</description>
	<lastBuildDate>Fri, 04 Feb 2011 06:30:34 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='manhajparashalafussholih.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/08ce379277c799e18b5483116131ea5d?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Manhaj Para Shalafus Sholih</title>
		<link>http://manhajparashalafussholih.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/osd.xml" title="Manhaj Para Shalafus Sholih" />
	<atom:link rel='hub' href='http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kerancuan Jilbab Muslimah</title>
		<link>http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/2010/07/18/kerancuan-jilbab-muslimah/</link>
		<comments>http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/2010/07/18/kerancuan-jilbab-muslimah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Jul 2010 21:38:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sayyidulistiqhfar.wordpress.com/?p=298</guid>
		<description><![CDATA[Pada edisi al-Hujjah yang lalu (Jilbab Wanita Muslimah oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani) telah dimuat syarat-syarat pakaian yang wajib dikenakan oleh wanita muslimah sampai dengan mengenakan pakaian yang memenuhi syari’at . Sehingga jadilah wanita muslimah berbeda dengan wanita yang bukan muslimah (baca: wanita kafir) dan memang seharusnya demikian. pada edisi kali ini kami sajikan kepada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manhajparashalafussholih.wordpress.com&amp;blog=13180136&amp;post=298&amp;subd=manhajparashalafussholih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada edisi al-Hujjah yang lalu (Jilbab Wanita Muslimah oleh Syaikh  Muhammad Nashiruddin al-Albani) telah dimuat syarat-syarat pakaian yang wajib  dikenakan oleh wanita muslimah sampai dengan mengenakan pakaian yang memenuhi  syari’at . Sehingga jadilah wanita muslimah berbeda  dengan wanita yang bukan muslimah (baca: wanita kafir) dan memang seharusnya  demikian.</p>
<p>pada edisi kali ini  kami sajikan kepada sidang pembaca hukum berjilbab atas wanita muslimah, suatu  ketetapan yang tidak bisa ditawar-tawar atau ditolak dengan dalih apapun, karena  Allah yang kita sembah dengan ibadah shalat dan yang lainnya, Dialah juga yang  mewajibkan wanita muslimah untuk berjilbab.</p>
<p>Allah  berfirman:<em> </em></p>
<p><em>“Hai Nabi  katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang  mu’min:”Hendaklah mereka men julurkan jilbabnya ke seluruh tubuh  mereka</em>“<em>. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena  itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha  pengampun lagi Maha penyayang.” </em><strong>(QS. Al-Ahzab:  59).</strong><em></em><br />
<span id="more-298"></span><br />
<strong>MAKNA  JILBAB</strong></p>
<p>Dalam ayat di atas ada kata jalaabiib, bentuk plural dari mufrodnya  (kata tunggalnya) yaitu <strong><em>jilbab, </em></strong>yang memiliki  makna:</p>
<p>1. Kerudung besar yang menutupi semua anggota badan, sebagaimana  penjelasan Imam Al-Qurthubi <strong>(Tafsir Al-Qurthubi  14/232)</strong>.</p>
<p>2. Pakaian yang menutupi semua anggota badan wanita, sebagaimana  yang dituturkan oleh Ibnu Mas’ud, Ubaidah, Qotadah, Hasan Basri, Said bin  Jubair, Ibrahim An-Nakhoi dan Atho’ al­Khurasani. <strong>(Lihat Tafsir Ibnu Katsir  6/424, Al­Muhalla 3/219).</strong></p>
<p>3. Selimut yang menutupi wajah wanita dan semua anggota badannya  tatkala akan keluar, sebagaimana yang dituturkan Ibnu  Sirin. <strong>(Lihat Tafsir Ad-Durul Mansur 6/657, Tafsir  Al­Baidhowy 4/284, Tafsir An-Nasafi 3/453 581, Fathul Qadir 4/304, Ibnu Katsir  6/424 dan Tafsir Abu Su’ud 7/108).</strong></p>
<p>4. Pakaian yang menutup dari atas kepala sampai ke bawah,  sebagaimana yang dituturkan oleh Ibnu Abbas. <strong>(Lihat Tafsri  Al-Alusy 22/88).</strong></p>
<p><em>5.</em> Selendang besar yang menutupi  kerudung. Sebagaimana yang dituturkan oleh Ibnu Mas’ud dan  para tabi’in. <strong>(Lihat Tafsir Ibnu Katsir 6/  425).</strong></p>
<p>6. Pakaian sejenis kerudung besar yang menutupi semua badan,  sebagaimana yang dituturkan oleh Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud. <strong>(Lihat Tafsir  Ats­Tsa’labi 2/581).</strong><em></em></p>
<p>Dari keterangan di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa jilbab  bukanlah kerudung yang digantungkan di leher, bukan pula kerudung tipis yang  kelihatan rambutnya atau kerudung yang hanya menutup sebagian rambut  belakangnya, bukan pula kerudung sebangsa kopyah yang kelihatan lehernya atau  kerudung yang hanya menutup ujung kepala bagian atas seperti ibu suster dan  wanita Nashrani atau kerudung yang kelihatan dadanya, dan bukan pula selendang  kecil yang dikalungkan di pundak kanannya.</p>
<p><strong>HUKUM  BERJILBAB</strong></p>
<p>Para ulama’  bersepakat bahwa jilbab hukumnya adalah wajib berdasarkan Al-Quran dan sunnah,</p>
<p><strong>A. Berdasarkan  dalil-dalil dari al-Qur’an:</strong></p>
<p>1.  Surat A1-Ahzab:  <em>59.</em></p>
<p><em>Hendaklah mereka menjulurkan  jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.</em><em></em></p>
<p>2.  Surat A1-Ahzab:  33.</p>
<p><em>Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu  dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah  yang dahulu.</em><em></em></p>
<p>Perintah wanita agar menetap di rumah menunjukkan keharusan  berjilbab tatkala keluar darinya.</p>
<p>3.  Surat An-Nur:  31</p>
<p><em>Dan hendaklah mereka menutupkan kain  kerudung ke dadanya.</em><em></em></p>
<p>Apabila  menampakkan perhiasan saja dilarang bagi wanita, lantas bagaimana lagi kalau  bersolek dan menampakkan keindahan tubuh mereka?!!.</p>
<p><strong>B. Adapun  dalil-dalil</strong> <strong>dari  Sunnah:</strong></p>
<p>1. Hadits yang mengancam  wanita tidak masuk surga karena tidak berjilbab. Rasulullah r  bersabda: <em>Ada</em><em> dua  kelompok termasuk ahli neraka, aku belum pernah melihatnya: Suatu kaum yang  memiliki cambuk seperti ekor sapl, mereka memukul manusia dengan cambuknya, dan  wanita yang kasiyat (berpakain tapi telanjang baik karena tipis, atau pendek  yang tidak menutup semua auratnya), Mailat mumilat (bergaya ketika berjalan,  ingin diperhatikan orang) kepala mereka seperti punuk onta yang berpunuk dua.  Mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan baunya padahal bau surga itu akan  didapati dari sekian dan sekian (perjalanan 500 th).. </em><strong>(HR. Muslim 3971, Ahmad 8311 dan Imam  Malik 1421).</strong></p>
<p>Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid  berkata: “Hadits ini menunjukkan bahwa <em>tabarruj </em>(bersoleknya kaum wanita)  termasuk dosa besar”.</p>
<p>2. Wanita adalah aurat, dia wajib  berjilbab. Rasulullah r  bersabda:</p>
<p>“<em>Wanita itu adalah aurat, apabila dia keluar akan  dibuat indah oleh syetan.” </em><strong>(Shahih.</strong><strong> HR Tirmidzi 1093, Ibnu Hibban  dan At-Thabrani dalam kitab Mu’jmu1 Kabir.Lihat A1-Irwa’:  273).</strong></p>
<p>3. Ummu Salamah berkata:  Wahai Rasulullah, bagaimana wanita berbuat dengan pakaiannya yang menjulur ke  bawah?<em> Beliau </em>r<em> bersabda:</em> <em>Hendaklah mereka memanjangkan  satu jengkäl, </em>lalu ia bertanya lagi<em>: Bagaimana  bila masih terbuka kakinya? Beliau menjawab: “Hendaknya menambah satu hasta, dan  tidak boleh lebih”. </em><strong>(HR. Tirmidzi 653 dan berkata:“Hadits hasan shahih”).</strong></p>
<p>4. Kisah wanita yang akan berangkat menunaikan shalat ‘ied, ia tidak memiliki  jilbab, maka diperintah oleh Rasulullah r:  <em>“Hendaknya Saudarinya meminjaminya Jilbab untuknya </em>“. <strong>(HR. Bukhari No. 318).</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>HIKMAH BERJILBAB</strong></p>
<p>Semua  perintah AIloh dan RasulNya r apabila  dikerjakan pasti membawa manfaat. Diantara  manfaat jilbab bagi kaum wanita adalah sebagai  berikut:</p>
<p>1. Untuk membedakan antara  wanita muslimah dan lainnya, berdasarkan firmanNya<em>: “Yang demikian itu supaya  mereka lebih mudah untuk dikenal”. </em>Tentunya wanita  muslimah lebih bangga dengan jilbabnya, karena inilah kemuliaan dari  Allah.</p>
<p>2. Jauh dari gangguan  orang munafik dan laki-laki yang fasik, karena firman-Nya <em>“karena itu mereka  tidak diganggu” </em>Wahai ukhti muslimah! Terimalah ketentuan  Allah yang selalu belas kasihan kepada  hambaNya.</p>
<p>3. Mendapat ampunan dan  rahmat dari Allah sebagaimana firman-Nya: <em>“Dan Allah adalah Maha pengampun  lagi Maha penyayang </em>“.</p>
<p>4. Menjaga kesucian hati  bagi kaum pria dan wanita. <strong>(Lihat keterangan </strong><strong>surat</strong><strong> Al-Ahzab: <em>53 </em>di atas)</strong></p>
<p><em> 5. </em>Mewujudkan akhlak yang mulia, rasa  malu, menghormati dirinya dan orang lain.</p>
<p>6. Sebagai tanda wanita  <em>afifah, </em>yakni wanita yang menjaga kehormatan dirinya dari hal-hal yang  mengganggunya. Syaikh Bakr Abu Zaid berkata: “baiknya lahir seseorang  menunjukkan baik batinnya”. <strong>(Lihat Hirosatul Fadhilah hal:  85).</strong><em></em></p>
<p>7. Memutus ketamakan dan  bahaya syetan, karena dengan jilbab berarti menjaga masyarakat dari gangguan dan  penyakit hati kaum pria dan wanita, dan mencegah perbutan  zina.</p>
<p>8.  Menjaga sifat malu, hal ini merupakan perhiasan utama bagi wanita, jika rasa  malu hilang, hilang pulalah kehidupan, karena <em>haya’ </em>yang berarti malu  diambil dari kata <em>hayat </em>yang berarti  kehidupan.</p>
<p>9. Membendung wanita untuk  bersolek, berhias diri di hadapan orang lain dan membendung pergaulan bebas  serta menuju pembentukan masyarakat yang Islami.</p>
<p>10. Menutup celah-celah  perzinaan, sehingga wanita bukan merupakan makanan empuk bagi setiap  penjilat.</p>
<p>11. Wanita adalah aurat,  sedangkan jilbab merupakan penutupnya.</p>
<p>Allah  berfirman:</p>
<p><em>Hai anak Adam,  sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi `auratmu dan  pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang  paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari  tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu  ingat.</em> <strong>(QS. Al-A’rof: 26).</strong></p>
<p>12-Membuat suami senang kepadanya. <strong>(Hirosatul Fadhilah hal. 84-88  ).</strong></p>
<p><strong>SYUBHAT DAN  BANTAHANNYA</strong></p>
<p>Para propagandis dan penyeru agar wanita menanggalkan jilbabnya  berargumen dengan alasan­alasan yang kropos, diantaranya: Perintah dalam  surat Al-Ahzab  ayat: 32, 33 yang tercantum di atas hanyalah diperuntukkan untuk para istri  Rasulullah r saja,  bukan untuk semua wañita muslimah karena ayatnya: <em>“Hai isteri-isteri  Nabi”.</em></p>
<p>Bantahan:</p>
<p>Syaikh Bakr  bin Abdullah berkata: “Pembicaraan ini memang ditujukan kepada isteri Rasulullah  , tetapi wanita lainnya ikut di dalamnya, adapun disebut isteri Rasulullah  karena kemuliaan dan kedudukan mereka di sisi Rasulullah r, mereka  sebagai panutan wanita yang lain dan karena mereka kerabat Rasulullah  r yang wajib  dinasehati”, sebagaimana firmanNya:</p>
<p><em>Hai orang-orang  yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. (QS. </em>At-Tahrim:  6).</p>
<p>Selanjutnya beliau mengatakan: “Ayat ini menunjukkan hukum umum,  karena syariat Allah bukan untuk perorangan, jadi yang menjadi patokan adalah  kaidah “keumuman dalil bukan kekhususan sebab. <strong>(Lihat Hirasotul fadhilah:  40-41).</strong></p>
<p>Jika mereka beralasan bahwa ayat A1-Qur’an yang menjelaskan  berjilbab hanya diperuntukkan untuk isteri Rasulullah r, maka  ketahuilah bahwa surat Al-Ahzab  ayat: 59 bukan hanya untuk isteri Nabi saja, tetapi untuk putri beliau dan semua  wanita muslimah dan berlaku sampai hari kiamat sebagaimana sangat jelas dalam  teks ayat tersebut. Ketahuilah bahwa kesamaan perintah  berjilbab untuk istri, putri Nabi dan wanita muslimah karena kesamaan iman  kepada hukum Allah.</p>
<p><strong>ANCAMAN KELUARGA YANG </strong></p>
<p><strong>MEMBIARKAN KELUARGANYA  TAK</strong></p>
<p><strong>BERJILBAB</strong></p>
<p>Seorang mukmin hendaknya menjauhkan dirinya dan keluarganya dari  api neraka. Rasulullah r  bersabda:<em></em></p>
<p><em>Ada tiga perkara, Allah mengharamkan  mereka masuk sorga, yaitu pecandu khomer orang yang tidak taat dan addayus, yang  menyetujui istrinya berbuat kejahatan.</em><strong> (HR. Ahmad  5839, Shahihul Jami’: 3052, 2/290)..</strong><em></em></p>
<p><em>Addayyus </em>yaitu orang yang mengetahui  keluarganya melakukan perbuatan keji seperti zina dan lainnya, tetapi mereka  malah mendukungnya atau mendiamkannya. Contoh  lainnya lagi: Orang tua yang membiarkan putrinya bergaul bebas dan bersendagurau  dengan pria yang bukan mahromnya. Suami setuju melihat isteri  atau putrinya hanya berpakaian pendek, tidak berjilbab, atau membiarkan putri  dan isterinya berhadap-hadapan dengan pria bercelana pendek saat nonton telivisi  dan Iainnya.<em> </em><strong>(Lihat Mukhtashor Al­Kabaair Adz-Dzahabi:  36).</strong><em></em></p>
<p>Demikianlah, semoga Allah memberi petunjuk kepada kita semua,  semoga Allah memberi kesabaran bagi ukhti kita yang berjilbab, semoga kita tidak  menjadi penghalang wanita yang berjilbab, semoga kita menjadi pendukungnya  walaupun fitnah tidak kunjung padam. Mereka ingin memadamkan  cahaya Allah, tetapi Allah ingin  menghidupkannya.<em></em></p>
<br />Filed under: <a href='http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/category/al-islam/'>Al Islam</a>, <a href='http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/category/fiqh/'>Fiqh</a>, <a href='http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/category/muslimah/'>Muslimah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/manhajparashalafussholih.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/manhajparashalafussholih.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/manhajparashalafussholih.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/manhajparashalafussholih.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/manhajparashalafussholih.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/manhajparashalafussholih.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/manhajparashalafussholih.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/manhajparashalafussholih.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/manhajparashalafussholih.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/manhajparashalafussholih.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/manhajparashalafussholih.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/manhajparashalafussholih.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/manhajparashalafussholih.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/manhajparashalafussholih.wordpress.com/298/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manhajparashalafussholih.wordpress.com&amp;blog=13180136&amp;post=298&amp;subd=manhajparashalafussholih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/2010/07/18/kerancuan-jilbab-muslimah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7858978ea34282df8be0bcf95f2d041e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">manhajparashalafussholih</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Tabarruj (Berhias ala Jahiliyah)</title>
		<link>http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/2010/06/29/tentang-tabarruj-berhias-ala-jahiliyah/</link>
		<comments>http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/2010/06/29/tentang-tabarruj-berhias-ala-jahiliyah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Jun 2010 12:53:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab Dan Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sayyidulistiqhfar.wordpress.com/?p=203</guid>
		<description><![CDATA[Ciri-ciri wanita muslimah : “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah &#8230;”[Al Ahzab: 33] - Tabarruj adalah maksiat kepada Allah dan Rasul. Barangsiapa yang maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya maka ia hanya akan mencelakakan dirinya sendiri dan tidak akan mencelakakan Allah sedikitpun. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manhajparashalafussholih.wordpress.com&amp;blog=13180136&amp;post=448&amp;subd=manhajparashalafussholih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sayyidulistiqhfar.files.wordpress.com/2010/06/taba1.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-206" title="Organic Beauty Products with Botanicals" src="http://sayyidulistiqhfar.files.wordpress.com/2010/06/taba1.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Ciri-ciri wanita muslimah : “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah &#8230;”[Al Ahzab: 33]</p>
<p><span style="color:#ff4500;"><strong>- Tabarruj adalah maksiat kepada Allah dan Rasul.</strong></span><strong> </strong></p>
<p>Barangsiapa yang maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya maka ia hanya akan mencelakakan dirinya sendiri dan tidak akan mencelakakan Allah sedikitpun.<br />
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:</p>
<div style="text-align:right;">
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong> ((كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الجَنَّةَ إلاَّ مَنْ أبَى ، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللهِ وَمَنْ يَأْبَى ؟ قَالَ : مَنْ أطَاعَنِي دَخَلَ الجَنَّةَ ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أبَى))<br />
</strong></span></span></p>
<p><strong> </strong></p>
</div>
<p>“Semua umatku akan masuk surga kecuali orang yang menolak” Mereka bertanya: “Ya Rasulullah! Siapakah orang yang menolak itu? Beliau menjawab: “Siapa yang taat kepadaku akan masuk surga dan siapa yang maksiat kepadaku maka ia telah menolak.”<br />
<span id="more-448"></span><br />
<span style="color:#ff4500;"><strong> &#8211; Tabarruj menyebabkan laknat dan dijauhkan dari rahmat Allah.</strong></span><strong> </strong></p>
<p>Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalambersabda:</p>
<div style="text-align:right;">
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
((سَيَكُونُ فِي آخِرِ أُمَّتِي نِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ ، عَلَى رُؤُوسِهِنَّ كَأَسْنِمَةِ البَخْتِ ، اِلْعَنُوهُنَّ فَإنَّهُنَّ مَلْعُونَاتٌ))</strong></span></span></p>
<p><strong> </strong></p>
</div>
<p>“Akan ada pada akhir umatku nanti wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, kepala mereka bagaikan punuk unta, laknatlah mereka karena mereka adalah wanita-wanita yang pantas dilaknat.”</p>
<p><span style="color:#ff4500;"><strong> &#8211; Tabarruj adalah sifat penghuni neraka.</strong></span><strong> </strong></p>
<p>Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:</p>
<div style="text-align:right;">
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
((صِنْفَانِ مِنْ أهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا : قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأذْنَابِ البَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ &#8230; ))</strong></span></span></p>
<p><strong> </strong></p>
</div>
<p>“Ada dua golongan penghuni neraka yang belum pernah saya lihat; kaum yang membawa cemeti bagai ekor sapi yang digunakan memukul menusia dan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang&#8230;”</p>
<p><span style="color:#ff4500;"><strong> &#8211; Tabarruj penyebab hitam dan gelap di hari kiamat.</strong></span><strong> </strong></p>
<p>Diriwayatkan dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam, beliau bersabda:</p>
<div style="text-align:right;">
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
((مَثَلُ الرَّافِلَةِ في الزِّينَةِ في غَيْرِ أهْلِهَا ، كَمَثَلِ ظُلْمَةٍ يَوْمَ القِيَامَةِ لاَ نُورَ لهَا))<br />
</strong></span></span></p>
</div>
<p>“Permisalan wanita yang berhias untuk selain suaminya, adalah bagaikan kegelapan pada hari kiamat, tidak ada cahaya baginya.”<br />
Maksudnya adalah wanita yang berlenggak-lenggok ketika berjalan dengan menarik pakaiannya, akan datang pada hari kiamat dalam keadaan hitam dan gelap, bagaikan berlenggak-lenggok dalam kegelapan. Dan hadits ini walaupun lemah, tetapi artinya benar, karena kenikmatan dalam maksiat adalah siksaan, wangi-wangian akan menjadi busuk dan cahaya menjadi kegelapan. Kebalikan dari taat, bahwa bau mulut orang yang berpuasa dan darah orang yang mati syahid lebih harum di sisi Allah dari bau minyak kasturi.&#8221;</p>
<p><span style="color:#ff4500;"><strong> &#8211; Tabarruj adalah kemunafikan.</strong></span><strong> </strong></p>
<p>Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalambersabda:</p>
<div style="text-align:right;">
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
((خَيْرُ نِسَائِكُمُ الوَدُودُ الوَلُودُ ، المُوَاسِيَةُ ، المُوَاتِيَةُ ، إذَا اتَّقَيْنَ اللهَ، وَشَرُّ نِسَائِكُمُ المُتَبَرِّجَاتُ المُتَخَيِّلاَتُ وَهُنَّ المُنَافِقَاتُ ، لاَ يَدْخُلْنَ الجَنَّةَ إلاَّ مِثْلَ الغُرَابِ الأعْصَمِ)) </strong></span></span></p>
<p><strong> </strong></p>
</div>
<p>“Sebaik-baik wanita kalian adalah yang memiliki kasih sayang, subur (banyak anak), suka menghibur dan siap melayani, bila mereka bertakwa kepada Allah. Dan sejelek-jelek wanita kalian adalah wanita pesolek dan penghayal mereka itu adalah wanita-wanita munafik, mereka tidak akan masuk surga kecuali seperti ghurab a’sham.”<br />
Yang dimaksud ghurab a’sham adalah burung gagak yang memiliki cakar dan kaki merah, pertanda minimnya wanita masuk surga, karena burung gagak yang memiliki sifat seperti ini sangat jarang ditemukan.</p>
<p><span style="color:#ff4500;"><strong> &#8211; Tabarruj mengoyak tirai pelindung dan membuka aib.</strong></span><strong> </strong></p>
<p>Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalambersabda:</p>
<div style="text-align:right;">
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
((أيَّمَا امْرَأَةٍ وَضَعَتْ ثِيَابَهَا فِي غَيْرِ بَيْتِ زَوْجِهَا، فَقَدْ هَتَكَتْ سِتْرَ مَا بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ))</strong></span></span></p>
<p><strong> </strong></p>
</div>
<p>“Siapa saja di antara wanita yang menanggalkan pakaian-nya di selain rumah suaminya, maka ia telah mengoyak tirai pelindung antara dirinya dan Allah Azza wa Jalla.”</p>
<p><span style="color:#ff4500;"><strong> &#8211; Tabarruj adalah perbuatan keji.</strong></span><strong> </strong></p>
<p>Wanita itu adalah aurat, dan membuka aurat adalah keji dan dibenci. Allah Shalallahu ‘alaihi wassalamberfirman:</p>
<div style="text-align:right;">
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
وَإذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً قَالُوا وَجَدْنَا عَلَيْهَا آبَاءَنَا وَاللهُ أَمَرَنَا بِهَا قُلْ إنَّ اللهَ لاَ يَأْمُرُ بِالفَحْشَاءِ </strong></span></span></p>
<p><strong> </strong></p>
</div>
<p>“Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: “Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakan-nya.” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.” (Q.S. Al-A’raf: 28)<br />
Sebenarnya setanlah yang memerintahkan manusia melakukan perbuatan keji itu, sebagaimana firman Allah:</p>
<div style="text-align:right;">
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالفَحْشَاءِ </strong></span></span></p>
<p><strong> </strong></p>
</div>
<p>“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir).” (Q.S. Al-Baqorah: 268)</p>
<p><span style="color:#ff4500;"><strong> &#8211; Tabarruj adalah ajaran iblis </strong></span><strong> </strong></p>
<p>Sesungguhnya kisah Adam dengan Iblis memberikan gambaran kepada kita bagaimana musuh Allah, Iblis itu membuka peluang untuk melakukan perbuatan dosa dan mengoyak tirai pelindung dan bahwa Tabarruj itulah tujuan asasi baginya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<div style="text-align:right;">
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
يَا بَنِي آدَمَ لاَ يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْءَاتِهِمَا </strong></span></span></p>
<p><strong> </strong></p>
</div>
<p>“Hai anak Adam! Janganlah kamu sekali-kali dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya.” (Q.S. Al-A’raf: 27)<br />
Jadi iblislah yang mengajak kepada Tabarruj dan buka-bukaan. Dialah pemimpin utama bagi para pencetus apa yang dikenal dengan Tahrirul Mar’ah (pembebasan wanita).</p>
<p><span style="color:#ff4500;"><strong> &#8211; Tabarruj adalah jalan hidup orang-orang Yahudi.</strong></span></p>
<p><strong>Orang-orang Yahudi memiliki peran yang sangat besar dalam menghancurkan umat ini melalui wanita, dan kaum wanita sejak dulu memiliki pengalaman di bidang ini, di mana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalambersabda:</strong></p>
<div style="text-align:right;">
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><strong><br />
<strong>((فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ ، فَإنَّ أوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إسْرَائِيلَ كَانَتْ في النِّسَاءِ))</strong></strong></strong></span></span></p>
<p><strong><strong><strong> </strong></strong></strong></p>
</div>
<p><strong><strong>“Takutlah pada dunia dan takutlah pada wanita karena fitnah pertama pada Bani Israel adalah pada wanita.”</strong></strong></p>
<p><span style="color:#ff4500;"><strong><strong><strong> &#8211; Tabarruj adalah Jahiliyah busuk.</strong></strong></strong></span><strong><strong><strong> </strong></strong></strong></p>
<p><strong><strong>Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</strong></strong></p>
<div style="text-align:right;">
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><strong><br />
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلاَ تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الجَاهِلِيَّةِ الأُولَى </strong></strong></span></span></p>
<p><strong><strong> </strong></strong></p>
</div>
<p><strong>“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah.” (Q.S. Al-Ahzab: 33)</strong></p>
<p><strong>Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam telah menyifati ajakan Jahiliyah sebagai ajakan busuk dan kotor. Jadi ajakan Jahiliyah adalah saudara kandung Tabarruj Jahiliyah. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:</strong></p>
<div style="text-align:right;">
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong>((كُلُّ شَيْءٍ مِنْ أمْرِ الجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوعٌ تَحْتَ قَدَمِي))</strong></span></span></p>
<p><strong><strong> </strong></strong></p>
</div>
<p><strong>“Semua yang merupakan perkara Jahiliyah tersimpan di bawah telapak kakiku.”<br />
Baik itu bernama Tabarruj Jahiliyah, ajakan Jahiliyah ataupun kesombongan Jahiliyah.</strong></p>
<p><span style="color:#ff4500;"><strong><strong> &#8211; Tabarruj adalah keterbelakangan.</strong></strong></span><strong><strong> </strong></strong></p>
<p><strong>Buka-bukaan dan telanjang adalah fitrah hewan ternak, tidak seorangpun yang condong kepadanya kecuali dia akan terperosok jatuh ke derajat yang paling rendah dari pada derajat manusia yang telah dimuliakan Allah. Dari sini nampaklah bahwa Tabarruj adalah tanda kerusakan fitrah, ketiadaan ghirah dan mati rasa:</strong></p>
<p><strong>Anda mengangkat baju hingga lutut</strong></p>
<p><strong>Demi Tuhanmu, sungai apa yang akan anda seberangi</strong></p>
<p><strong>Baju itu bagaikan naungan di waktu pagi</strong></p>
<p><strong>Yang semakin pendek, waktu demi waktu</strong></p>
<p><strong>Anda mengira bahwa laki-laki itu tidak memiliki perasaan</strong></p>
<p><strong>Padahal anda sendiri yang mungkin tidak punya perasaan</strong></p>
<p><span style="color:#ff4500;"><strong><strong> &#8211; Tabarruj adalah pintu adzab yang merata.</strong></strong></span></p>
<p><strong><strong>Seseorang yang memperhatikan nash-nash syare’at dan sejarah (Islam) akan meyakini adanya kerusakan yang ditimbulkan oleh Tabarruj dan bahayanya atas agama dan dunia, apalagi bila diperparah dengan Ikhtilath (percampurbauran antara laki-laki dan wanita).</strong></strong></p>
<p><strong><strong>Akibat dan bahaya Tabarruj<br />
yang menakutkan </strong></strong></p>
<p><strong><strong>Wanita-wanita yang melakukan Tabarruj berlomba-lomba menggunakan perhiasan yang diharamkan untuk menarik perhatian kepadanya. Sesuatu yang justru akan merusak akhlak dan harta serta menjadikan wanita sebagai barang hina yang diperjualbelikan, dan di antara bahayanya adalah:<br />
1. Rusaknya akhlak kaum lelaki khususnya para pemuda yang terdorong melakukan zina yang diharamkan ini.<br />
2. Memperdagangkan wanita sebagai sarana promosi atau untuk meningkatkan usaha perdagangan dan sebagainya.<br />
3. Mencelakakan diri wanita sendiri, karena Tabarruj itu menunjukkan niat jelek dari apa yang ia suguhkan untuk menggoda orang-orang jahat dan bodoh.<br />
4. Tersebarnya penyakit, seperti sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam :</strong></strong></p>
<div style="text-align:right;">
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
<strong>(( لَمْ تَظْهَرِ الفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إلاَّ فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالأوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ فِي أسْلاَفِهِمُ الَّذِينَ مَضَوْا ))</strong></strong></span></span></p>
<p><strong><strong><strong> </strong></strong></strong></p>
</div>
<p><strong><strong>“Tidaklah suatu perbuatan zina itu nampak pada suatu kaum hingga mereka mengumumkannya kecuali akan tersebar di antara mereka penyakit menular dan penyakit-penyakit lain yang belum pernah ada pada orang-orang dulu.”<br />
5. Mempermudah mata melakukan maksiat, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalambersabda: “Kedua mata zinanya adalah melihat.” Serta menyulitkan ketaatan ghadhul bashar (menundukkan pandangan) yang merupakan sesuatu yang lebih berbahaya dari ledakan bom atom dan gempa bumi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu dengan sehancur-hancurnya.” (Q.S. Al-Isra’: 16)</strong></strong></p>
<p><strong><strong>Dalam hadits juga disebutkan: </strong></strong></p>
<div style="text-align:right;">
<p><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
((إنَّ النَّاسَ إذَا رَأَوْا المُنْكَرَ فَلَمْ يُغَيِّرُوهُ أوْشَكَ أنْ يَعُمَّهُمُ اللهُ بِعَذَابٍ))</strong></span></span></p>
<p><strong><strong><strong> </strong></strong></strong></p>
</div>
<p><strong><strong>“Sesungguhnya manusia bila melihat kemungkaran dan tidak merubahnya, dikhawatirkan Allah akan menimpakan mereka adzab.”</strong></strong></p>
<p><strong><strong>Wahai ukhti muslimah! Tidakkah anda memperhatikan hadits nabi : “Buanglah duri dari jalan kaum muslimin.” Dan bila membuang duri dari jalan termasuk cabang iman, maka duri manakah yang lebih berat, batu di jalan atau fitnah yang merusak hati, menerbangkan akal dan menyebarkan kekejian di antara orang-orang mu’min.<br />
Sesungguhnya tidaklah seorang lelaki muslim terkena fitnah pada hari ini karena anda yang telah memalingkannya dari mengingat Allah dan menghalanginya dari jalan yang lurus -padahal anda sanggup mencegahnya dari fitnah itu- kecuali di hari esok nanti Allah akan menghukum anda dengan adzab yang sangat pedih.</strong></strong></p>
<p><strong><strong>Segeralah taat kepada Allah, tinggalkan kritikan dan ejekan manusia, karena perhitungan Allah kelak sangat ketat.</strong></strong></p>
<p><strong><strong>(Dinukil dari kitab : الحجاب Al Hijab. Penebit: Darul Qosim دار القاسم للنشر والتوزيع  Riyadh 11442)</strong></strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/category/fiqh/adab-dan-akhlaq/'>Adab Dan Akhlaq</a>, <a href='http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/category/fiqh/'>Fiqh</a>, <a href='http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/category/muslimah/'>Muslimah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/manhajparashalafussholih.wordpress.com/448/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/manhajparashalafussholih.wordpress.com/448/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/manhajparashalafussholih.wordpress.com/448/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/manhajparashalafussholih.wordpress.com/448/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/manhajparashalafussholih.wordpress.com/448/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/manhajparashalafussholih.wordpress.com/448/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/manhajparashalafussholih.wordpress.com/448/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/manhajparashalafussholih.wordpress.com/448/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/manhajparashalafussholih.wordpress.com/448/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/manhajparashalafussholih.wordpress.com/448/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/manhajparashalafussholih.wordpress.com/448/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/manhajparashalafussholih.wordpress.com/448/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/manhajparashalafussholih.wordpress.com/448/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/manhajparashalafussholih.wordpress.com/448/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manhajparashalafussholih.wordpress.com&amp;blog=13180136&amp;post=448&amp;subd=manhajparashalafussholih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/2010/06/29/tentang-tabarruj-berhias-ala-jahiliyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7858978ea34282df8be0bcf95f2d041e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">manhajparashalafussholih</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sayyidulistiqhfar.files.wordpress.com/2010/06/taba1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Organic Beauty Products with Botanicals</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Utamanya Hijab Bagi Wanita</title>
		<link>http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/2010/06/12/tentang-utamanya-hijab-bagi-wanita/</link>
		<comments>http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/2010/06/12/tentang-utamanya-hijab-bagi-wanita/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Jun 2010 06:38:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sayyidulistiqhfar.wordpress.com/?p=170</guid>
		<description><![CDATA[Keutamaan Hijab Hijab itu adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: وَمَا كَانَ لمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إذاَ قَضَى اللهُ وَرَسُولُهُ أمْرًا أنْ يَكُونَ لهُمُ الخِيَرَةُ مِنْ أمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُبِينًا “Dan tidaklah patut bagi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manhajparashalafussholih.wordpress.com&amp;blog=13180136&amp;post=447&amp;subd=manhajparashalafussholih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sayyidulistiqhfar.files.wordpress.com/2010/06/hijab-saman-aghvami.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-171" title="hijab-saman-aghvami" src="http://sayyidulistiqhfar.files.wordpress.com/2010/06/hijab-saman-aghvami.jpg?w=195&#038;h=300" alt="" width="195" height="300" /></a></p>
<p>Keutamaan Hijab</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Hijab itu  adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul.</strong></span><strong> </strong></p>
<p>Allah  Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya  berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
وَمَا  كَانَ لمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إذاَ قَضَى اللهُ وَرَسُولُهُ أمْرًا أنْ يَكُونَ  لهُمُ الخِيَرَةُ مِنْ أمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ  ضَلاَلاً مُبِينًا<br />
</strong></span></p>
<p></span></div>
<p>“Dan tidaklah patut bagi laki-laki  yang mu’min dan tidak pula bagi perempuan yang mu’minah, apabila Allah dan  Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang  lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya  maka sesungguhnya dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Q.S. Al-Ahzab:  36)</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memerintahkan  kaum wanita untuk menggunakan hijab sebagaimana firman Allah Subhanahu wa  Ta’ala:</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ  أبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إلاَّ مَا  ظَهَرَ مِنْهَا<br />
</strong></span></p>
<p></span></div>
<p>“Dan katakanlah kepada wanita yang  beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluan-nya,  dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari  padanya.” (Q.S An-Nur: 31)<br />
<span id="more-447"></span><br />
Allah Subhanahu wa  Ta’ala berfirman:</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلاَ  تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الجَاهِلِيَّةِ الأُولَى<br />
</strong></span></p>
<p></span></div>
<p>“Dan  hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku  seperti orang-orang jahiliyah.” (Q.S. Al-Ahzab: 33)</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
وَإذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ  ذَلِكُمْ أطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ<br />
</strong></span></p>
<p></span></div>
<p>“Apabila kamu meminta suatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri  Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi  hatimu dan hati mereka.” (Q.S. Al-Ahzab: 53)</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
يَا  أيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ المُؤْمِنِينَ  يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ<br />
</strong></span></p>
<p></span></div>
<p>“Hai  Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri  orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.”  (Q.S. Al-Ahzab: 59)</p>
<p>Rasulullah Shalallahu ‘alaihi  wassalam bersabda: “Wanita itu aurat” maksudnya adalah bahwa ia harus menutupi  tubuhnya.</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Hijab itu ‘iffah  (kemuliaan)</strong></span><strong> </strong></p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan  kewajiban menggunakan hijab sebagai tanda ‘Iffah (menahan diri dari  maksiat).<br />
Allah Subhanahu wa Ta’ala  berfirman:</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
ياَ أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ  وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ المُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ  ذَلِكَ أدْنَى أنْ يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ<br />
</strong></span></p>
<p></span></div>
<p>“Hai  Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri  orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.  Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka  tidak diganggu.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)<br />
Itu karena  mereka menutupi tubuh mereka untuk menghindari dan menahan diri dari perbuatan  jelek (dosa), “karena itu mereka tidak diganggu”. Maka orang-orang fasik tidak  akan mengganggu mereka. Dan pada firman Allah “karena itu mereka tidak diganggu”  sebagai isyarat bahwa mengetahui keindahan tubuh wanita adalah suatu bentuk  gangguan berupa fitnah dan kejahatan bagi mereka.</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Hijab itu kesucian</strong></span><strong> </strong></p>
<p>Allah Subhanahu wa  Ta’ala berfirman:</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
وَإذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا  فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ  وَقُلُوبِهِنَّ<br />
</strong></span></p>
<p></span></div>
<p>“Apabila kamu meminta suatu  (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir.  Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (Q.S. Al-Ahzab:  53)</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati hijab  sebagai kesucian bagi hati orang-orang mu’min, laki-laki maupun perempuan.  Karena mata bila tidak melihat maka hatipun tidak berhasrat. Pada saat seperti  ini, maka hati yang tidak melihat akan lebih suci. Ketiadaan fitnah pada saat  itu lebih nampak, karena hijab itu menghancurkan keinginan orang-orang yang ada  penyakit di dalam hatinya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ<br />
</strong></span></p>
<p></span></div>
<p>“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga  berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya.” (Q.S. Al-Ahzab:  32)</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Hijab itu pelindung</strong></span><strong> </strong></p>
<p>Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalambersabda:</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
(إنَّ اللهَ حَيِيٌّ سَتِيرٌ يُحِبُّ الحَيَاءَ  وَالسِّتْرَ)<br />
</strong></span></p>
<p></span></div>
<p>“Sesungguhnya Allah itu Malu dan  Melindungi serta Menyukai rasa malu dan perlindungan”<br />
Sabda beliau yang lain:</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
(( أيَّمَا  اِمْرَأَةٍ نَزَعَتْ ثِيَابَهَا في غَيْرِ بَيْتِهَا خَرَقَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ  عَنْهَا سِتْرَهُ))<br />
</strong></span></p>
<p></span></div>
<p>“Siapa saja di antara wanita  yang melepaskan pakaiannya di selain rumahnya, maka Allah Azza wa Jalla telah  mengoyak perlindungan rumah itu dari padanya.”</p>
<p>Jadi balasannya setimpal dengan perbuatannya.</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Hijab itu taqwa</strong></span><strong> </strong></p>
<p>Allah Subhanahu wa  Ta’ala berfirman:</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
ياَ بَنِي آدَمَ قَدْ أنْزَلْنَا  عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْءَاتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ  خَيْرٌ<br />
</strong></span></p>
<p></span></div>
<p>“Hai anak Adam! Sesungguhnya Kami telah  menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk  perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik.” (Q.S. Al-A’raaf:  26)</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Hijab itu iman</strong></span><strong> </strong></p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak berfirman kecuali kepada  wanita-wanita beriman: “Dan katakanlah kepada wanita yang beriman.” (Q.S.  An-Nur: 31). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: “Dan istri-istri orang  beriman.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)<br />
Dan ketika  wanita-wanita dari Bani Tamim menemui Ummul Mu’minin, Aisyah ra dengan pakaian  tipis, beliau berkata: “Jika kalian wanita-wanita beriman, maka (ketahuilah)  bahwa ini bukanlah pakaian wanita-wanita beriman, dan jika kalian bukan wanita  beriman, maka silahkan nikmati pakaian itu.”</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong> Hijab itu haya’ (rasa malu)</strong></span><strong> </strong></p>
<p>Rasulullah Shalallahu  ‘alaihi wassalam bersabda:</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
((إنَّ لِكُلِّ دِينٍ  خُلُقًا ، وَإنَّ خُلُقَ الإسْلاَمِ الحَيَاءُ))<br />
</strong></span></p>
<p></span></div>
<p>“Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu  adalah rasa malu.”</p>
<p>Sabda beliau yang  lain:<br />
“Malu itu adalah bagian dari iman dan iman itu  di surga.”<br />
Sabda Rasul yang lain:</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
((الحَيَاءُ وَالإيمَانُ قُرِنَا جَمِيعًا ، فَإنْ رُفِعَ أحَدُهُمَا  رُفِعَ الآخَرُ))<br />
</strong></span></p>
<p></span></div>
<p>“Malu dan iman itu bergandengan  bersama, bila salah satunya di angkat maka yang lainpun akan  terangkat.”</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Hijab itu ghirah (perasaan  cemburu)</strong></span><strong> </strong></p>
<p>Hijab itu selaras dengan perasaan  cemburu yang merupakan fitrah seorang laki-laki sempurna yang tidak senang  dengan pandangan-pandangan khianat yang tertuju kepada istri dan anak wanitanya.  Berapa banyak peperangan terjadi pada masa Jahiliyah dan masa Islam akibat  cemburu atas seorang wanita dan untuk menjaga kehormatannya. Ali bin Abi Thalib  Radiyallahu &#8216;anhu berkata: “Telah sampai kepadaku bahwa wanita-wanita kalian  berdesak-desakan dengan laki-laki kafir orang ‘ajam (non Arab) di pasar-pasar,  tidakkah kalian merasa cemburu? Sesungguhnya tidak ada kebaikan pada seseorang  yang tidak memiliki perasaan cemburu.”</p>
<p>Beberapa  syarat hijab yang harus terpenuhi:<br />
1. Menutupi  seluruh anggota tubuh wanita -berdasarkan pendapat yang paling rajih /  terang<br />
2. Hijab itu sendiri pada dasarnya bukan  perhiasan.<br />
3. Tebal dan tidak tipis atau  trasparan.<br />
4. Longgar dan tidak sempit atau  ketat.<br />
5. Tidak memakai  wangi-wangian.<br />
6. Tidak menyerupai pakaian  wanita-wanita kafir.<br />
7. Tidak menyerupai pakaian  laki-laki.<br />
8. Tidak bermaksud memamerkannya kepada  orang-orang.</p>
<p>Jangan berhias terlalu berlebihan</p>
<p>Bila anda memperhatikan syarat-syarat tersebut  di atas akan nampak bagi anda bahwa banyak di antara wanita-wanita sekarang ini  yang menamakan diri sebagai wanita berjilbab, padahal pada hakekatnya mereka  belum berjilbab. Mereka tidak menamakan jilbab dengan nama yang sebenarnya.  Mereka menamakan Tabarruj sebagai hijab dan menamakan maksiat sebagai  ketaatan.</p>
<p>Musuh-musuh kebangkitan Islam berusaha  dengan sekuat tenaga menggelincirkan wanita itu, lalu Allah menggagalkan tipu  daya mereka dan meneguhkan orang-orang Mu’min di atas ketaatan kepada Tuhannya.  Mereka memanfaatkan wanita itu dengan cara-cara kotor untuk memalingkannya dari  jalan Tuhan dengan memproduksi jilbab dalam berbagai bentuk dan menamakannya  sebagai “jalan tengah” yang dengan itu ia akan mendapatkan ridha Tuhannya  -sebagaimana pengakuan mereka- dan pada saat yang sama ia dapat beradaptasi  dengan lingkungannya dan tetap menjaga kecantikannya.</p>
<p>Kami dengar dan kami taat</p>
<p>Seorang  muslim yang jujur akan menerima perintah Tuhannya dan segera menerjemahkannya  dalam amal nyata, karena cinta dan perhomatannya terhadap Islam, bangga dengan  syariat-Nya, mendengar dan taat kepada sunnah nabi-Nya dan tidak peduli dengan  keadaan orang-orang sesat yang berpaling dari kenyataan yang sebenarnya, serta  lalai akan tempat kembali yang ia nantikan. Allah menafikan keimanan orang yang  berpaling dari ketaatan kepada-Nya dan kepada rasul-Nya:</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
وَيَقُولُونَ آمَنَّا  بِاللهِ وَبِالرَّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلَّى فَرْيقٌ مِنْهُمْ مِنْ بَعْدِ  ذَلِكَ وَمَا أُولَئِكَ بِالمُؤْمِنِين وَإذَا دُعُوا إلَى اللهِ وَرَسُولِهِ  لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ مُعْرِضُونَ<br />
</strong></span></p>
<p></span></div>
<p>“Dan mereka  berkata: “Kami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan kami menaati  (keduanya).” Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali  mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka dipanggil  kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka,  tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang.” (Q.S. An-Nur: 47-48)</p>
<p>Firman Allah yang lain:</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
إنَّمَا كاَنَ قَوْلَ  المُؤْمِنِينَ إذَا دُعُوا إلَى اللهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أنْ  يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ المُفْلِحُونَ  وَمَنْ يُطِعِ  اللهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللهَ وَيَتَّقِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الفَائِزُونَ<br />
</strong></span></p>
<p></span></div>
<p>“Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan  rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan: “Kami  mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” Dan  barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan  bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapatkan  kemenangan.” (Q.S. An-Nur: 51-52)</p>
<p>Dari Shofiyah  binti Syaibah berkata: “Ketika kami bersama Aisyah ra, beliau berkata: “Saya  teringat akan wanita-wanita Quraisy dan keutamaan mereka.” Aisyah berkata:  “Sesungguhnya wanita-wanita Quraisy memiliki keutamaan, dan demi Allah, saya  tidak melihat wanita yang lebih percaya kepada kitab Allah dan lebih meyakini  ayat-ayat-Nya melebihi wanita-wanita Anshor. Ketika turun kepada mereka ayat:  “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya.” (Q.S. An-Nur: 31) Maka  para suami segera mendatangi istri-istri mereka dan membacakan apa yang  diturunkan Allah kepada mereka. Mereka membacakan ayat itu kepada istri, anak  wanita, saudara wanita dan kaum kerabatnya. Dan tidak seorangpun di antara  wanita itu kecuali segera berdiri mengambil kain gorden (tirai) dan menutupi  kepala dan wajahnya, karena percaya dan iman kepada apa yang diturunkan Allah  dalam kitab-Nya. Sehingga mereka (berjalan) di belakang Rasulullah Shalallahu  ‘alaihi wassalamdengan kain penutup seakan-akan di atas kepalanya terdapat  burung gagak.”</p>
<p>(Dinukil dari kitab :  الحجاب Al Hijab. Penebit: Darul Qosim دار القاسم للنشر والتوزيع</p>
<br />Filed under: <a href='http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/category/al-islam/'>Al Islam</a>, <a href='http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/category/fiqh/'>Fiqh</a>, <a href='http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/category/muslimah/'>Muslimah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/manhajparashalafussholih.wordpress.com/447/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/manhajparashalafussholih.wordpress.com/447/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/manhajparashalafussholih.wordpress.com/447/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/manhajparashalafussholih.wordpress.com/447/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/manhajparashalafussholih.wordpress.com/447/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/manhajparashalafussholih.wordpress.com/447/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/manhajparashalafussholih.wordpress.com/447/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/manhajparashalafussholih.wordpress.com/447/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/manhajparashalafussholih.wordpress.com/447/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/manhajparashalafussholih.wordpress.com/447/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/manhajparashalafussholih.wordpress.com/447/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/manhajparashalafussholih.wordpress.com/447/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/manhajparashalafussholih.wordpress.com/447/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/manhajparashalafussholih.wordpress.com/447/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manhajparashalafussholih.wordpress.com&amp;blog=13180136&amp;post=447&amp;subd=manhajparashalafussholih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/2010/06/12/tentang-utamanya-hijab-bagi-wanita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7858978ea34282df8be0bcf95f2d041e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">manhajparashalafussholih</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sayyidulistiqhfar.files.wordpress.com/2010/06/hijab-saman-aghvami.jpg?w=195" medium="image">
			<media:title type="html">hijab-saman-aghvami</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jilbab Wanita Muslimah</title>
		<link>http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/2010/06/12/jilbab-wanita-muslimah/</link>
		<comments>http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/2010/06/12/jilbab-wanita-muslimah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Jun 2010 06:13:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sayyidulistiqhfar.wordpress.com/?p=168</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani Dewasa ini kita melihat banyak kaum muslimah yang tidak berjilbab dan apabila ada yang berjilbab bukan dengan tujuan untuk menutup aurat-aurat mereka akan tetapi  dengan tujuan mengikuti mode, agar lebih anggun dan alasan lainnya. Sehingga mereka walaupun berjilbab tetapi masih memperlihatkan bentuk tubuh mereka dan mereka masih ber-tasyabbuh kepada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manhajparashalafussholih.wordpress.com&amp;blog=13180136&amp;post=446&amp;subd=manhajparashalafussholih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh :  Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani</p>
<p>Dewasa ini kita melihat banyak kaum  muslimah yang tidak berjilbab dan apabila ada yang berjilbab bukan dengan tujuan  untuk menutup aurat-aurat mereka akan tetapi   dengan tujuan mengikuti mode, agar lebih anggun dan alasan  lainnya. Sehingga mereka walaupun berjilbab tetapi masih  memperlihatkan bentuk tubuh mereka dan mereka masih ber-<em>tasyabbuh</em> kepada  orang kafir. Tidak hanya itu mereka menghina wanita muslimah yang  mengenakan jilbab yang syar’i, dengan mengatakan itu pakaian orang kolot,  pakaian orang radikal, dan mereka mengatakan jilbab (yang syar’i) adalah   budaya arab yang sudah ketinggalan zaman,  serta banyak lagi  ejekan-ejekan yang tidak pantas keluar dari mulut seorang muslim. Hal ini karena  kejahilan dan ketidak pedulian mereka untuk mencari ilmu tentang pakaian  wanita muslimah yang syar’i. Untuk itu  pada edisi  ini kami muat penjelasan  Syaikh Albani tentang Syarat-syarat Jilbab Wanita Muslimah yang sesuai dengan  tuntunan syari’at.<br />
<span id="more-446"></span><br />
<span style="color:#ff0000;"><strong>MELIPUTI SELURUH  BADAN SELAIN YANG  DIKECUALIKAN</strong></span><strong> </strong></p>
<p>Syarat ini terdapat dalam firman Allah  dalam <strong>surat</strong><strong> An-Nuur ayat  31 : </strong></p>
<p>Artinya:  “<em>Katakanlah kepada wanita yang beriman.Hendaklah mereka menahan pandangan  mereka dan memelihara kemaluan mereka dan janganlah mereka menampakkan perhiasan  mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. Dan  hendaklah  mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka, dan janganlah menampakkan  perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami  mereka (mertua) atau putra-putra mereka atau putra-putra suami mereka atau  saudara-saudara mereka (kakak dan adiknya) atau putra-putra saudara laki-laki  mereka atau putra-putra saudara perempuan mereka (keponakan) atau wanita-wanita  Islam atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang  tidak mempunyai keinginan</em> <em>(terhadap wanita) atau anak-anak yang belum  mengerti aurat wanita&#8230;</em>”</p>
<p>Juga firman Allah dalam  <strong>surat</strong><strong> Al-Ahzab ayat  59  :</strong> Artinya: “<em>Hai Nabi katakanlah kepada  istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mumin: “Hendaklah  mereka mengulurkann jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang  demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka    tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun  lagi Maha Penyayang.”</em></p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam  Tafsirnya : “Janganlah kaum wanita   menampakkan sedikitpun dari perhiasan mereka kepada pria-pria <em>ajnabi  (yang bukan mahram/halal nikah)</em>, kecuali yang tidak mungkin disembunyikan.”  Ibnu Masud berkata : Misalnya selendang   dan kain lainnya. “Maksudnya adalah kain kudung yang biasa dikenakan oleh  wanita Arab di atas pakaiannya serat bagian bawah pakiannya yang tampak, maka  itu bukan dosa baginya, karena tidak mungkin   disembunyikan.”</p>
<p>Al-Qurthubi berkata  : Pengecualian itu adalah pada wajah dan telapak tangan. Yang menunjukkan  hal itu adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari  Aisyah bahwa Asma binti Abu Bakr menemui Rasulullah sedangkan ia memakai pakaian  tipis. Maka Rasulullah berpaling darinya dan berkata   kepadanya : “<em>Wahai Asma ! Sesungguhnya jika seorang wanita itu  telah mencapai masa haid, tidak baik jika ada bagian tubuhnya yang terlihat,  kecuali ini.” Kemudian beliau menunjuk wajah dan telapak  tangannya. Semoga Allah memberi Taufik dan tidak ada  Rabb selain-Nya.”</em></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>BUKAN SEBAGAI  PERHIASAN</strong></span><strong> </strong></p>
<p>Ini berdasarkan firman Allah dalam  <strong>surat</strong><strong> An-Nuur ayat  31 :</strong></p>
<p><em>Artinya: “Dan  janganlah kaum wanita itu menampakkan perhiasan mereka.” </em>Secara umum kandungan ayat  ini juga mencakup pakaian biasa jika dihiasi dengan sesuatu, yang menyebabkan  kaum laki-laki melirikkan pandangan kepadanya.</p>
<p>Hal ini dikuatkan oleh firman Allah  dalam <strong>surat</strong><strong> Al-Ahzab ayat  33 :</strong></p>
<p>Artinya: <em>“Dan  hendaklah kamu tetap di rumahmu dan  janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti oang-orang  jahiliyah.”</em></p>
<p>Juga berdasarkan sabda Nabi :</p>
<p><em>“Ada tida golongan  yang tidak akan ditanya yaitu, seorang laki-laki yang meninggalkan jamaah kaum  muslimin dan mendurhakai imamnya (penguasa) serta meninggal dalam keadaan  durhaka, seorang budak wanita atau laki-laki yang melarikan diri (dari tuannya)  lalu ia mati, serta seorang wanita yang ditinggal oleh suaminya, padahal  suaminya telah mencukupi keperluan duniawinya, namun setelah itu ia bertabarruj.  Ketiganya itu tidak akan ditanya.”</em> <strong>(Ahmad VI/19;  Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad).</strong></p>
<p><em>Tabarruj </em>adalah perilaku wanita  yang menampakkan perhiasan dan kecantikannya serta segala sesuatu yang wajib  ditutup karena dapat  membangkitkan  syahwat laki-laki. <strong>(Fathul Bayan  VII/19).</strong><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>KAINNYA TIDAK  TRANSPARAN</strong></span><strong> </strong></p>
<p>Sebab yang namanya menutup itu tidak  akan terwujud kecuali tidak trasparan. Jika transparan,  maka hanya akan mengundang fitnah (godaan) dan berarti  menampakkan perhiasan. Dalam hal ini Rasulullah telah bersabda  : “<em>Pada akhir umatku nanti akan ada wanita-wanita yang berpakain namun  (hakekatnya) telanjang. Di atas kepala mereka seperti punuk  unta. Kutuklah mereka karena sebenarnya mereka adalah  kaum wanita yang terkutuk.”</em> <strong>(At-Thabrani Al-Mujamusshaghir : 232).</strong></p>
<p>Di dalam hadits lain terdapat tambahan  yaitu : “<em>Mereka tidak akan masuk  surga dan juga tidak akan mencium baunya, padahal baunya surga itu dapat dicium  dari perjalanan sekian dan sekian.</em>”  <strong>(HR.Muslim).</strong><strong> </strong></p>
<p>Ibnu Abdil Barr berkata : Yang dimaksud oleh Nabi adalah kaum wanita yang  mengenakan pakaian yang tipis, yang dapat mensifati (menggambarkan) bentuk  tubuhnya dans tidak dapat menutup atau menyembunyikannya. Mereka itu tetap  berpakaian namanya, akan tetapi hakekatnya telanjang.  <strong>( Tanwirul</strong><strong> Hawalik III/103). </strong></p>
<p>Dari Abdullah bin Abu Salamah,  bahawsannya Umar bin Al-Khattab pernah memakai baju Qibtiyah (jenis pakaian dari  Mesir yang tipis dan berwarna putih) kemudian Umar berkata  : Jangan kamu pakaikan baju ini untuk istri-istrimu !. Seseorang kemudian  bertanya : Wahai Amirul Muminin, Telah   saya pakaikan itu kepada istriku dan telah aku lihat di rumah dari arah  depan maupun belakang, namun aku tidak melihatnya sebagai pakaian yang tipis !.  Maka Umar menjawab : Sekalipun tidak tipis,namun ia  menggambarkan lekuk tubuh.” (<strong>H.R. Al-Baihaqi  II/234-235).</strong><strong> </strong></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>HARUS LONGGAR (TIDAK  KETAT) SEHINGGA TIDAK DAPAT MENGGAMBARKAN SESUATU DARI  TUBUHNYA</strong></span><strong> </strong></p>
<p>Usamah bin Zaid pernah berkata :</p>
<p>Rasulullah pernah memberiku baju Qibtiyah yang tebal yang merupakan  baju yang dihadiahkan oleh Dihyah Al-Kalbi kepada  beliau. Baju itu pun aku pakaikan pada  istriku. Nabi bertanya kepadaku :<em> Mengapa  kamu tidak mengenakan baju Qibtiyah ?” Aku menjawab :  Aku pakaikan baju itu pada istriku. Nabi lalu bersabda  : “Perintahkan ia agar mengenakan</em> <em>baju dalam di balik Qibtiyah  itu, karena saya khawatir baju itu masih bisa menggambarkan bentuk  tulangnya.”</em> <strong>(Ad-Dhiya Al-Maqdisi :   Al-Hadits Al-Mukhtarah I/441). </strong></p>
<p>Aisyah pernah berkata  : <em>Seorang wanita  dalam shalat harus mengenakan tiga  pakaian : Baju, jilbab dan khimar. Adalah Aisyah pernah  mengulurkan izar-nya (pakaian sejenis jubah) dan berjilbab dengannya <strong>(Ibnu Sad VIII/71)</strong>.</em> Pendapat yang senada juga dikatakan oleh Ibnu Umar :  Jika seorang wanita menunaikan shalat, maka ia harus mengenakan seluruh  pakainnya : Baju, khimar dan milhafah (mantel)<strong>(Ibnu Abi Syaibah: Al-Mushannaf  II:26/1).</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>TIDAK DIBERI WEWANGIAN  ATAU PARFUM</strong></span><strong> </strong></p>
<p>Dari Abu Musa Al-Asyari bahwasannya ia  berkata : Rasulullah bersabda : “<em>Siapapun wanita  yang memakai wewangian, lalu ia melewati kaum laki-laki agar mereka mendapatkan  baunya, maka ia adalah pezina.”</em> <strong>(Al-Hakim II/396 dan  disepakati oleh Adz-Dzahabi).</strong><strong> </strong></p>
<p>Dari Zainab Ats-Tsaqafiyah bahwasannya  Nabi bersabda : <em>“Jika salah seorang diantara kalian  (kaum wanita) keluar menuju masjid, maka jangan sekali-kali mendekatinya dengan  (memakai) wewangian.”</em> <strong>(Muslim dan Abu Awanah ). </strong></p>
<p>Dari Musa bin Yasar dari Abu Hurairah :Bahwa seorang wanita berpapasan dengannya dan bau  wewangian tercium olehnya. Maka Abu Hurairah berkata :  Wahai hamba Allah ! Apakah kamu hendak ke masjid ? Ia  menjawab : Ya. Abu Hurairah kemudian berkata : Pulanglah saja, lalu mandilah ! karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah bersabda :  <em>“Jika seorang wanita keluar menuju masjid sedangkan bau wewangian menghembus  maka Allah tidak menerima shalatnya, sehingga ia</em> <em>pulang lagi menuju  rumahnya lalu mandi.</em>” <strong>(Al-Baihaqi  III/133).</strong><strong> </strong></p>
<p>Alasan pelarangannya sudah jelas, yaitu  bahwa hal itu akan membangkitkan nafsu birahi. Ibnu  Daqiq Al-Id berkata : Hadits tersebut menunjukkan  haramnya memakai wewangian bagi wanita yang hendak keluar menuju masjid, karena  hal itu akan dapat membangkitkan nafsu birahi kaum laki-laki   <strong>(Al-Munawi : Fidhul Qadhir).</strong></p>
<p>Saya (Albani) katakan  : Jika hal itu saja diharamkan bagi wanita yang hendak keluar menuju  masjid, lalu apa hukumnya bagi yang hendak menuju pasar, atau tempat keramaian  lainnya ? Tidak diragukan lagi bahwa hal itu jauh lebih haram  dan lebih besar dosanya. Berkata Al-Haitsami<strong> </strong>dalam AZ-Zawajir  II/37 “Bahwa keluarnya seorang wanita dari rumahnya dengan memakai wewangian dan  berhias adalah termasuk perbuatan dosa besar   meskipun suaminya mengizinkan”.</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>TIDAK MENYERUPAI  PAKAIAN LAKI-LAKI</strong></span><strong> </strong></p>
<p>Karena ada beberapa  hadits shahih <strong>yang melaknat wanita yang menyerupakan diri dengan kaum pria,  baik dalam hal pakaian maupun lainnya</strong>. Dari Abu Hurairah berkata : <em>Rasulullah  melaknat pria yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian  pria</em> <strong>(Al-Hakim IV/19 disepakati oleh Adz-Dzahabi). </strong></p>
<p>Dari Abdullah bin Amru yang berkata : Saya mendengar Rasulullah bersabda : <em>“Tidak  termasuk golongan kami para wanita yang menyerupakan diri dengan kaum pria dan  kaum pria yang menyerupakan diri dengan kaum wanita.</em>” <strong>(Ahmad  II/199-200)</strong></p>
<p>Dari Ibnu Abbas yang berkata : Nabi melaknat kaum pria yang bertingkah   kewanita-wanitaan dan kaum wanita yang bertingkah kelaki-lakian. Beliau  bersabda : <em>“Keluarkan mereka dari rumah kalian.  Nabi pun mengeluarkan si fulan dan Umar juga mengeluarkan si  fulan.” Dalam lafadz lain : “Rasulullah melaknat  kaum pria yang menyerupakan diri dengan kaum wanita dan kaum wanita yang  menyerupakan diri dengan kaum pria.</em>” (<strong>Al-Bukhari   X/273-274).</strong></p>
<p>Dari Abdullah bin Umar Rasulullah bersabda : “<em>Tiga golongan yang tidak akan masuk surga dan  Allah tidak akan memandang mereka pada hari kiamat; Orang yang durhaka kepada  kedua orang tuanya, wanita yang bertingkah kelaki-lakian dan menyerupakan diri  dengan laki-laki dan  dayyuts (orang yang tidak memiliki rasa  cemburu).</em>” <strong>( Al</strong><strong>-Hakim I/72 dan IV/146-147  disepakati Adz-Dzahabi). </strong></p>
<p>Dalam haits-hadits ini  terkandung petunjuk yang jelas mengenai diharamkannya tindakan wanita menyerupai  kaum pria, begitu pula sebaiknya. Ini  bersifat umum, meliputi masalah pakaian dan lainnya, kecuali hadits  yang pertama yang hanya menyebutkan  hukum dalam masalah pakaian saja.</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>TIDAK MENYERUPAI  PAKAIAN WANITA-WANITA KAFIR</strong></span><strong> </strong></p>
<p>Syariat Islam telah  menetapkan bahwa kaum muslimin (laki-laki maupun perempuan) tidak boleh  bertasyabuh (menyerupai) kepada orang-orang kafir, baik dalam ibadah, ikut  merayakan hari raya, dan berpakain khas mereka. Dalilnya Firman Allah <strong>surat Al-Hadid ayat 16:</strong> Artinya  <em>:“Belumkah datang  waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk  tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada  mereka) dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah  diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka  lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara  mereka adalah orang-orang yang fasik.”</em></p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : Firman Allah dalam  <strong>surat</strong><strong> Al-Hadid ayat  16:</strong>“<em>Janganlah mereka  seperti&#8230;</em>” merupakan larangan mutlak dari tindakan menyerupai mereka, di  samping merupakan larangan khusus dari tindakan menyerupai mereka dalam hal  membatunya hati akibat kemaksiatan <strong>(Al-Iqtidha&#8230; hal. 43). </strong></p>
<p>Ibnu Katsir berkata ketika menafsirkan  ayat ini <strong>(IV/310)  :</strong> Karena itu Allah melarang orang-orang beriman menyerupai  mereka dalam perkara-perkara pokok maupun cabang. Allah berfirman :  Artinya: “<em>Hai orang-orang yang  beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad).“Raaina”  tetapi katakanlah “Unzhurna” dan dengarlah. Dan bagi  orang-orang  yang   kafir  siksaan  yang pedih</em>” <strong>(Q.S.  Al-baqarah:104).</strong></p>
<p>Lebih lanjut Ibnu Katsir berkata dalam  tafsirnya <strong>(I/148)</strong>: Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman untuk  mnyerupai  ucapan-ucapan dan  tindakan-tindakan orang-orang kafir. Sebab, orang-orang Yahudi  suka menggunakan plesetan kata dengan tujuan mengejek. Jika mereka ingin  mengatakan “Dengarlah kami” mereka mengatakan “Raaina” sebagai plesetan kata  “ruunah” (artinya  ketotolan) sebagaimana firman Allah dalam  <strong>surat An-Nisa ayat 46</strong>. Allah juga telah memberi tahukan dalam  <strong>surat</strong> <strong>Al-Mujadalah  ayat 22, </strong>bahwa tidak ada seorang mu’min yang mencintai orang-orang  kafir.  Barangsiapa yang mencintai orang-orang kafir, maka ia bukan orang mu’min, sedangkan tindakan menyerupakan diri  secara lahiriah merupakan hal yang dicurigai sebagai wujud kecintaan, oleh  karena itu diharamkan.</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>BUKAN PAKAIAN SYUHRAH  (UNTUK MENCARI POPULARITAS) </strong></span><strong> </strong></p>
<p>Berdasarkan hadits Ibnu Umar Rasulullah  bersabda:<em>“</em><em>Barangsiapa menge nakan pakaian  (libas)  syuhrah di dunia, niscaya Allah mengenakan pakaian  kehinaan kepadanya pada hari kiamat, kemudian  membakarnya dengan  api neraka</em>.”<strong>(Abu Daud II/172)</strong>.</p>
<p>Syuhrah adalah setiap pakaian yang  dipakai dengan tujuan untuk meraih popularitas di tengah-tengah orang banyak,  baik pakain tersebut mahal, yang dipakai oleh seseorang untuk berbangga dengan  dunia dan  perhiasannya, maupun pakaian yang bernilai rendah, yang  dipakai oleh seseorang untuk menampakkan kezuhudannya dan dengan tujuan riya  <strong>(Asy-Syaukani: Nailul Authar II/94). </strong> Ibnul Atsir berkata : “Syuhrah artinya terlihatnya sesuatu. Maksud dari Libas Syuhrah adalah pakaiannya terkenal di kalangan  orang-orang yang mengangkat pandangannya mereka kepadanya. Ia berbangga  terhadap orang lain dengan sikap  angkuh dan sombong.” wallahu ‘alam.</p>
<p><strong>Dikutip dari Kitab  Jilbab Al-Mar’ah Al-Muslimah fil Kitabi was Sunnah (Syaikh Al-Albani) </strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/category/fiqh/'>Fiqh</a>, <a href='http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/category/muslimah/'>Muslimah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/manhajparashalafussholih.wordpress.com/446/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/manhajparashalafussholih.wordpress.com/446/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/manhajparashalafussholih.wordpress.com/446/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/manhajparashalafussholih.wordpress.com/446/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/manhajparashalafussholih.wordpress.com/446/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/manhajparashalafussholih.wordpress.com/446/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/manhajparashalafussholih.wordpress.com/446/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/manhajparashalafussholih.wordpress.com/446/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/manhajparashalafussholih.wordpress.com/446/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/manhajparashalafussholih.wordpress.com/446/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/manhajparashalafussholih.wordpress.com/446/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/manhajparashalafussholih.wordpress.com/446/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/manhajparashalafussholih.wordpress.com/446/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/manhajparashalafussholih.wordpress.com/446/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manhajparashalafussholih.wordpress.com&amp;blog=13180136&amp;post=446&amp;subd=manhajparashalafussholih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/2010/06/12/jilbab-wanita-muslimah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7858978ea34282df8be0bcf95f2d041e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">manhajparashalafussholih</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Istri Sholihah, Keutamaannya dan Sifat &#8211; Sifatnya</title>
		<link>http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/2010/06/09/istri-sholihah-keutamaannya-dan-sifat-sifatnya/</link>
		<comments>http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/2010/06/09/istri-sholihah-keutamaannya-dan-sifat-sifatnya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Jun 2010 12:25:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sayyidulistiqhfar.wordpress.com/?p=148</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang sering diangankan oleh kebanyakan laki-laki tentang wanita yang bakal menjadi pendamping hidupnya? Cantik, kaya, punya kedudukan, karir bagus, dan baik pada suami. Inilah keinginan yang banyak muncul. Sebuah keinginan yang lebih tepat disebut angan-angan, karena jarang ada wanita yang memiliki sifat demikian. Kebanyakan laki-laki lebih memperhatikan penampilan dzahir, sementara unsur akhlak dari wanita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manhajparashalafussholih.wordpress.com&amp;blog=13180136&amp;post=148&amp;subd=manhajparashalafussholih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sayyidulistiqhfar.files.wordpress.com/2010/06/anggrek.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-149" title="anggrek" src="http://sayyidulistiqhfar.files.wordpress.com/2010/06/anggrek.jpg?w=259&#038;h=300" alt="" width="259" height="300" /></a></p>
<p>Apa yang sering diangankan oleh kebanyakan laki-laki tentang  wanita yang bakal menjadi pendamping hidupnya? Cantik, kaya, punya kedudukan,  karir bagus, dan baik pada suami. Inilah keinginan yang banyak muncul. Sebuah  keinginan yang lebih tepat disebut angan-angan, karena jarang ada wanita yang  memiliki sifat demikian. Kebanyakan laki-laki lebih memperhatikan penampilan  dzahir, sementara unsur akhlak dari wanita tersebut kurang diperhatikan. Padahal  akhlak dari pasangan hidupnya itulah yang akan banyak berpengaruh terhadap  kebahagiaan rumah tangganya.</p>
<p>Seorang muslim yang shalih, ketika membangun  mahligai rumah tangga maka yang menjadi dambaan dan cita-citanya adalah agar  kehidupan rumah tangganya kelak berjalan dengan baik, dipenuhi mawaddah wa  rahmah, sarat dengan kebahagiaan, adanya saling ta‘awun (tolong menolong),  saling memahami dan saling mengerti. Dia juga mendamba memiliki istri yang  pandai memposisikan diri untuk menjadi naungan ketenangan bagi suami dan tempat  beristirahat dari ruwetnya kehidupan di luar. Ia berharap dari rumah tangga itu  kelak akan lahir anak turunannya yang shalih yang menjadi qurratu a‘yun  (penyejuk mata) baginya.<br />
Demikian harapan demi harapan dirajutnya sambil  meminta kepada Ar-Rabbul A‘la (Allah Yang Maha Tinggi) agar dimudahkan segala  urusannya.<br />
Namun tentunya apa yang menjadi dambaan seorang muslim ini tidak  akan terwujud dengan baik terkecuali bila wanita yang dipilihnya untuk menemani  hidupnya adalah wanita shalihah. Karena hanya wanita shalihah yang dapat menjadi  teman hidup yang sebenarnya dalam suka maupun lara, yang akan membantu dan  mendorong suaminya untuk taat kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Hanya dalam diri  wanita shalihah tertanam aqidah tauhid, akhlak yang mulia dan budi pekerti yang  luhur. Dia akan berupaya ta‘awun dengan suaminya untuk menjadikan rumah  tangganya bangunan yang kuat lagi kokoh guna menyiapkan generasi Islam yang  diridhai Ar-Rahman.<br />
Sebaliknya, bila yang dipilih sebagai pendamping hidup  adalah wanita yang tidak terdidik dalam agama1 dan tidak berpegang dengan agama,  maka dia akan menjadi duri dalam daging dan musuh dalam selimut bagi sang suami.  Akibatnya rumah tangga selalu sarat dengan keruwetan, keributan, dan  perselisihan. Istri seperti inilah yang sering dikeluhkan oleh para suami,  sampai-sampai ada di antara mereka yang berkata: “Aku telah berbuat baik  kepadanya dan memenuhi semua haknya namun ia selalu menyakitiku.”<br />
Duhai  kiranya wanita itu tahu betapa besar hak suaminya, duhai kiranya dia tahu akibat  yang akan diperoleh dengan menyakiti dan melukai hati suaminya….! Namun dari  mana pengetahuan dan kesadaran itu akan didapatkan bila dia jauh dari pengajaran  dan bimbingan agamanya yang haq? Wallahu Al-Musta‘an.</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Keutamaan wanita  shalihah</strong></span><strong> </strong></p>
<p>Abdullah bin Amr radhiallahu &#8216;anhuma meriwayatkan sabda Rasulullah  Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam:</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
الدُّنْيَا مَتاَعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ  الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ<br />
</strong></span></p>
<p></span></div>
<p><span id="more-148"></span><br />
“Sesungguhnya dunia itu adalah  perhiasan2 dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim  no. 1467)<br />
Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda kepada Umar ibnul  Khaththab radhiallahu &#8216;anhu:</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
أَلاَ أُخْبِرَكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ  الْمَرْءُ، اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهَ وَإِذَا  أَمَرَهَا أَطَاعَتْهَ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهَ<br />
</strong></span></p>
<p></span></div>
<p>“Maukah aku  beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu  istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya3, bila diperintah4 akan  mentaatinya5, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya.” (HR. Abu  Dawud no. 1417. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata dalam Al-Jami’ush Shahih  3/57: “Hadits ini shahih di atas syarat Muslim.”)<br />
Berkata Al-Qadhi ‘Iyyadh  rahimahullah: “Tatkala Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menerangkan kepada  para sahabatnya bahwa tidak berdosa mereka mengumpulkan harta selama mereka  menunaikan zakatnya, beliau memandang perlunya memberi kabar gembira kepada  mereka dengan menganjurkan mereka kepada apa yang lebih baik dan lebih kekal  yaitu istri yang shalihah yang cantik (lahir batinnya) karena ia akan selalu  bersamamu menemanimu. Bila engkau pandang menyenangkanmu, ia tunaikan  kebutuhanmu bila engkau membutuhkannya. Engkau dapat bermusyawarah dengannya  dalam perkara yang dapat membantumu dan ia akan menjaga rahasiamu. Engkau dapat  meminta bantuannya dalam keperluan-keperluanmu, ia mentaati perintahmu dan bila  engkau meninggalkannya ia akan menjaga hartamu dan memelihara/mengasuh  anak-anakmu.” (‘Aunul Ma‘bud, 5/57)<br />
Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam  pernah pula bersabda:</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ: اَلْمَرْأَةُ  الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ، وَالْمَرْكَبُ  الْهَنِيُّ. وَأَرْبَعٌ مِنَ الشّقَاءِ: الْجَارُ السّوءُ، وَاَلْمَرْأَةُ  السُّوءُ، وَالْمَركَبُ السُّوءُ، وَالْمَسْكَنُ الضَّيِّقُ.<br />
</strong></span></p>
<p></span></div>
<p>“Empat perkara  termasuk dari kebahagiaan, yaitu wanita (istri) yang shalihah, tempat tinggal  yang luas/ lapang, tetangga yang shalih, dan tunggangan (kendaraan) yang nyaman.  Dan empat perkara yang merupakan kesengsaraan yaitu tetangga yang jelek, istri  yang jelek (tidak shalihah), kendaraan yang tidak nyaman, dan tempat tinggal  yang sempit.” (HR. Ibnu Hibban dalam Al-Mawarid hal. 302, dishahihkan Asy-Syaikh  Muqbil dalam Al-Jami’ush Shahih, 3/57 dan Asy-Syaikh Al Albani dalam Silsilah  Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 282)<br />
Ketika Umar ibnul Khaththab radhiallahu  &#8216;anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam: “Wahai  Rasulullah, harta apakah yang sebaiknya kita miliki?” Beliau Shallallahu &#8216;alaihi  wa sallam menjawab:</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
لِيَتَّخِذْ أَحَدُكُمْ قَلْبًا شَاكِرًا وَلِسَاناً  ذَاكِرًا وَزَوْجَةً مُؤْمِنَةً تُعِيْنُ أَحَدَكُمْ عَلَى أَمْرِ  الآخِرَةِ<br />
</strong></span></p>
<p></span></div>
<p>“Hendaklah salah seorang dari kalian memiliki hati yang  bersyukur, lisan yang senantiasa berdzikir dan istri mukminah yang akan  menolongmu dalam perkara akhirat.” (HR. Ibnu Majah no. 1856, dishahihkan  Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahih Ibnu Majah no. 1505)<br />
Cukuplah  kemuliaan dan keutamaan bagi wanita shalihah dengan anjuran Rasulullah  Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bagi lelaki yang ingin menikah untuk  mengutamakannya dari yang selainnya. Beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam  bersabda:</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ ِلأََرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا  وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا. فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ  يَدَاكَ<br />
</strong></span></p>
<p></span></div>
<p>“Wanita itu dinikahi karena empat perkara yaitu karena hartanya,  karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah  olehmu wanita yang punya agama, engkau akan beruntung.” (HR. Al-Bukhari no. 5090  dan Muslim no. 1466)<br />
Empat hal tersebut merupakan faktor  penyebabdipersuntingnya seorang wanita dan ini merupakan pengabaran berdasarkan  kenyataan yang biasa terjadi di tengah manusia, bukan suatu perintah untuk  mengumpulkan perkara-perkara tersebut, demikian kata Al-Imam Al-Qurthubi  rahimahullah. Namun dzahir hadits ini menunjukkan boleh menikahi wanita karena  salah satu dari empat perkara tersebut, akan tetapi memilih wanita karena  agamanya lebih utama. (Fathul Bari, 9/164)<br />
Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah  berkata: “(فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ), maknanya: yang sepatutnya bagi seorang  yang beragama dan memiliki muruah (adab) untuk menjadikan agama sebagai petunjuk  pandangannya dalam segala sesuatu terlebih lagi dalam suatu perkara yang akan  tinggal lama bersamanya (istri). Maka Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam  memerintahkan untuk mendapatkan seorang wanita yang memiliki agama di mana hal  ini merupakan puncak keinginannya.” (Fathul Bari, 9/164)<br />
Al-Imam An-Nawawi  rahimahullah berkata: “Dalam hadits ini ada anjuran untuk berteman/ bersahabat  dengan orang yang memiliki agama dalam segala sesuatu karena ia akan mengambil  manfaat dari akhlak mereka (teman yang baik tersebut), berkah mereka, baiknya  jalan mereka, dan aman dari mendapatkan kerusakan mereka.” (Syarah Shahih  Muslim, 10/52)</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Sifat-sifat Istri Shalihah</strong></span><strong> </strong></p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala  berfirman:</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ  اللَّهُ<br />
</strong></span></p>
<p></span></div>
<p>“Wanita (istri) shalihah adalah yang taat lagi memelihara diri  ketika suaminya tidak ada dikarenakan Allah telah memelihara mereka.” (An-Nisa:  34)<br />
Dalam ayat yang mulia di atas disebutkan di antara sifat wanita shalihah  adalah taat kepada Allah dan kepada suaminya dalam perkara yang ma‘ruf6 lagi  memelihara dirinya ketika suaminya tidak berada di sampingnya.<br />
Asy-Syaikh  Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah berkata: “Tugas seorang istri  adalah menunaikan ketaatan kepada Rabbnya dan taat kepada suaminya, karena  itulah Allah berfirman: “Wanita shalihah adalah yang taat,” yakni taat kepada  Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, “Lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada.”  Yakni taat kepada suami mereka bahkan ketika suaminya tidak ada (sedang  bepergian, pen.), dia menjaga suaminya dengan menjaga dirinya dan harta  suaminya.” (Taisir Al-Karimir Rahman, hal.177)<br />
Ketika Rasulullah Shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam menghadapi permasalahan dengan istri-istrinya sampai beliau  bersumpah tidak akan mencampuri mereka selama sebulan, Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala  menyatakan kepada Rasul-Nya Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam:</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
عَسَى رَبُّهُ  إِنْ طَلَّقَكُنَّ أَنْ يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِنْكُنَّ مُسْلِمَاتٍ  مُؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تآئِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سآئِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ  وَأَبْكَارًا<br />
</strong></span></p>
<p></span></div>
<p>“Jika sampai Nabi menceraikan kalian,7 mudah-mudahan  Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik  daripada kalian, muslimat, mukminat, qanitat, taibat, ‘abidat, saihat dari  kalangan janda ataupun gadis.” (At-Tahrim: 5)<br />
Dalam ayat yang mulia di atas  disebutkan beberapa sifat istri yang shalihah yaitu:<br />
a. Muslimat:  wanita-wanita yang ikhlas (kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala), tunduk kepada  perintah Allah ta‘ala dan perintah Rasul-Nya.<br />
b. Mukminat: wanita-wanita yang  membenarkan perintah dan larangan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala<br />
c. Qanitat:  wanita-wanita yang taat<br />
d. Taibat: wanita-wanita yang selalu bertaubat dari  dosa-dosa mereka, selalu kembali kepada perintah (perkara yang ditetapkan)  Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam walaupun harus meninggalkan apa yang  disenangi oleh hawa nafsu mereka.<br />
e. ‘Abidat: wanita-wanita yang banyak  melakukan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala (dengan mentauhidkannya karena  semua yang dimaksud dengan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala di dalam  Al-Qur’an adalah tauhid, kata Ibnu Abbas radhiallahu &#8216;anhuma).<br />
f. Saihat:  wanita-wanita yang berpuasa. (Al-Jami‘ li Ahkamil Qur’an, 18/126-127, Tafsir  Ibnu Katsir, 8/132)<br />
Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menyatakan:</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ  فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيْلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ  أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ<br />
</strong></span></p>
<p></span></div>
<p>“Apabila seorang wanita shalat lima waktu,  puasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka  dikatakan kepadanya: Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang  engkau sukai.” (HR. Ahmad 1/191, dishahihkan Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah  dalam Shahihul Jami’ no. 660, 661)<br />
Dari dalil-dalil yang telah disebutkan di  atas, dapatlah kita simpulkan bahwa sifat istri yang shalihah adalah sebagai  berikut:<br />
1. Mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dengan mempersembahkan  ibadah hanya kepada-Nya tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.<br />
2. Tunduk  kepada perintah Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala, terus menerus dalam ketaatan  kepada-Nya dengan banyak melakukan ibadah seperti shalat, puasa, bersedekah, dan  selainnya. Membenarkan segala perintah dan larangan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala.<br />
3. Menjauhi segala perkara yang dilarang dan menjauhi sifat-sifat yang  rendah.<br />
4. Selalu kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dan bertaubat  kepada-Nya sehingga lisannya senantiasa dipenuhi istighfar dan dzikir  kepada-Nya. Sebaliknya ia jauh dari perkataan yang laghwi, tidak bermanfaat dan  membawa dosa seperti dusta, ghibah, namimah, dan lainnya.<br />
5. Menaati suami  dalam perkara kebaikan bukan dalam bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala  dan melaksanakan hak-hak suami sebaik-baiknya.<br />
6. Menjaga dirinya ketika  suami tidak berada di sisinya. Ia menjaga kehormatannya dari tangan yang hendak  menyentuh, dari mata yang hendak melihat, atau dari telinga yang hendak  mendengar. Demikian juga menjaga anak-anak, rumah, dan harta suaminya.<br />
Sifat  istri shalihah lainnya bisa kita rinci berikut ini berdasarkan dalil-dalil yang  disebutkan setelahnya:</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>1. Penuh kasih sayang, selalu kembali kepada suaminya  dan mencari maafnya.</strong></span><strong> </strong></p>
<p>Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda  :</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ اَلْوَدُوْدُ  الْوَلُوْدُ الْعَؤُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا، الَّتِى إِذَا غَضِبَ جَاءَتْ حَتَّى  تَضَعَ يَدَهَا فِي يَدِ زَوْجِهَا، وَتَقُوْلُ: لاَ أَذُوقُ غَضْمًا حَتَّى  تَرْضَى<br />
</strong></span></p>
<p></span></div>
<p>“Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang  menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu  kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya  dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: “Aku tak dapat  tidur sebelum engkau ridha.” (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257. Silsilah  Al-Ahadits Ash Shahihah, Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah, no. 287)</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>2.  Melayani suaminya (berkhidmat kepada suami) seperti menyiapkan makan minumnya,  tempat tidur, pakaian, dan yang semacamnya.</strong></span><strong> </strong></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>3. Menjaga rahasia-rahasia suami,</strong></span><strong> </strong></p>
<p>lebih-lebih yang berkenaan dengan hubungan intim antara dia dan suaminya. Asma’  bintu Yazid radhiallahu &#8216;anha menceritakan dia pernah berada di sisi Rasulullah  Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Ketika itu kaum lelaki dan wanita sedang duduk.  Beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bertanya: “Barangkali ada seorang suami  yang menceritakan apa yang diperbuatnya dengan istrinya (saat berhubungan  intim), dan barangkali ada seorang istri yang mengabarkan apa yang diperbuatnya  bersama suaminya?” Maka mereka semua diam tidak ada yang menjawab. Aku (Asma)  pun menjawab: “Demi Allah! Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka (para istri)  benar-benar melakukannya, demikian pula mereka (para suami).” Beliau Shallallahu  &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
فَلاَ تَفْعَلُوا، فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِثْلُ  الشَّيْطَانِ لَقِيَ شَيْطَانَةً فِي طَرِيْقٍ فَغَشِيَهَا وَالنَّاسُ  يَنْظُرُوْنَ<br />
</strong></span></p>
<p></span></div>
<p>“Jangan lagi kalian lakukan, karena yang demikian itu  seperti syaithan jantan yang bertemu dengan syaitan betina di jalan, kemudian  digaulinya sementara manusia menontonnya.” (HR. Ahmad 6/456, Asy-Syaikh Al  Albani rahimahullah dalam Adabuz Zafaf (hal. 63) menyatakan ada syawahid  (pendukung) yang menjadikan hadits ini shahih atau paling sedikit hasan)</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>4.  Selalu berpenampilan yang bagus dan menarik di hadapan suaminya sehingga bila  suaminya memandang akan menyenangkannya</strong></span><strong> </strong></p>
<p>. Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa  sallam bersabda:</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
أَلاَ أُخْبِرَكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ،  اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهَ وَإِذَا أَمَرَهَا  أَطَاعَتْهَ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهَ<br />
</strong></span></p>
<p></span></div>
<p>“Maukah aku beritakan  kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah  yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya dan  bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya”. (HR. Abu Dawud no. 1417.  Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata dalam Al-Jami’ush Shahih 3/57: “Hadits  ini shahih di atas syarat Muslim.”)</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>5. Ketika suaminya sedang berada di  rumah (tidak bepergian/ safar), ia tidak menyibukkan dirinya dengan melakukan  ibadah sunnah yang dapat menghalangi suaminya untuk istimta‘ (bernikmat-nikmat)  dengannya seperti puasa, terkecuali bila suaminya mengizinkan.</strong></span><strong> </strong></p>
<p>Rasulullah  Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ  تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ<br />
</strong></span></p>
<p></span></div>
<p>“Tidak halal bagi seorang  istri berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada (tidak sedang bepergian) kecuali  dengan izinnya”. (HR. Al-Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026)</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>6. Pandai  mensyukuri pemberian dan kebaikan suami, tidak melupakan kebaikannya,</strong></span><strong> </strong></p>
<p>karena  Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pernah bersabda: “Diperlihatkan neraka  kepadaku, ternyata aku dapati kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita yang  kufur.” Ada yang bertanya kepada beliau: “Apakah mereka kufur kepada Allah?”  Beliau menjawab: “Mereka mengkufuri suami dan mengkufuri (tidak mensyukuri)  kebaikannya. Seandainya salah seorang dari kalian berbuat baik kepada seorang di  antara mereka (istri) setahun penuh, kemudian dia melihat darimu sesuatu (yang  tidak berkenan baginya) niscaya dia berkata: “Aku tidak pernah melihat darimu  kebaikan sama sekali.” (HR. Al-Bukhari no. 29 dan Muslim no. 907)<br />
Rasulullah  Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam juga pernah bersabda:</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
لاَ يَنْظُرُ اللهُ  إِلَى امْرَأَةٍ لاَ تَشْكُرُ لِزَوْجِهَا وَهِيَ لاَ تَسْتَغْنِي  عَنْهُ<br />
</strong></span></p>
<p></span></div>
<p>“Allah tidak akan melihat kepada seorang istri yang tidak  bersyukur kepada suaminya padahal dia membutuhkannya.” (HR. An-Nasai dalam  Isyratun Nisa. Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 289)</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>7. Bersegera  memenuhi ajakan suami untuk memenuhi hasratnya, tidak menolaknya tanpa alasan  yang syar‘i, dan tidak menjauhi tempat tidur suaminya, karena ia tahu dan takut </strong></span><strong> </strong></p>
<p>terhadap berita Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam:</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
وَالَّذِي  نَفْسِي بِيَدِهِ مَا مِنْ رَجُلٍ يَدْعُو امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَتَأْبَى  عَلَيْهِ إِلاَّ كَانَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ سَاخِطًا عَلَيْهَا حَتَّى يَرْضَى  عَنْهَا<br />
</strong></span></p>
<p></span></div>
<p>“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang  suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak (enggan)  melainkan yang di langit murka terhadapnya hingga sang suami ridha padanya.”  (HR. Muslim no.1436)</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
إِذَا بَاتَتِ الْمَرْأَةُ مُهَاجِرَةً فِرَاشَ  زَوْجِهَا لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تَرْجِعَ</strong></strong></span></p>
<p></span></div>
<p><strong>“Apabila seorang  istri bermalam dalam keadaan meninggalkan tempat tidur suaminya, niscaya para  malaikat melaknatnya sampai ia kembali (ke suaminya).” (HR. Al-Bukhari no. 5194  dan Muslim no. 1436)<br />
Demikian yang dapat kami sebutkan dari keutamaan dan  sifat-sifat istri shalihah, mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala memberi  taufik kepada kita agar dapat menjadi wanita yang shalihah, amin.</strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/category/al-islam/'>Al Islam</a>, <a href='http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/category/fiqh/'>Fiqh</a>, <a href='http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/category/muslimah/'>Muslimah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/manhajparashalafussholih.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/manhajparashalafussholih.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/manhajparashalafussholih.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/manhajparashalafussholih.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/manhajparashalafussholih.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/manhajparashalafussholih.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/manhajparashalafussholih.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/manhajparashalafussholih.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/manhajparashalafussholih.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/manhajparashalafussholih.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/manhajparashalafussholih.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/manhajparashalafussholih.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/manhajparashalafussholih.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/manhajparashalafussholih.wordpress.com/148/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manhajparashalafussholih.wordpress.com&amp;blog=13180136&amp;post=148&amp;subd=manhajparashalafussholih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/2010/06/09/istri-sholihah-keutamaannya-dan-sifat-sifatnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7858978ea34282df8be0bcf95f2d041e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">manhajparashalafussholih</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sayyidulistiqhfar.files.wordpress.com/2010/06/anggrek.jpg?w=259" medium="image">
			<media:title type="html">anggrek</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dibalik Kelembutan Suaramu</title>
		<link>http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/2010/06/09/dibalik-kelembutan-suaramu-2/</link>
		<comments>http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/2010/06/09/dibalik-kelembutan-suaramu-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Jun 2010 12:01:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab Dan Akhlaq]]></category>
		<category><![CDATA[Al Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Muslimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sayyidulistiqhfar.wordpress.com/?p=144</guid>
		<description><![CDATA[Banyak wanita di jaman ini yang merelakan dirinya menjadi komoditi. Tidak hanya wajah dan tubuhnya yang menjadi barang dagangan, suaranya pun bisa mendatangkan banyak rupiah Ukhti Muslimah…. Suara empuk dan tawa canda seorang wanita terlalu sering kita dengarkan di sekitar kita, baik secara langsung atau lewat radio dan televisi. Terlebih lagi bila wanita itu berprofesi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manhajparashalafussholih.wordpress.com&amp;blog=13180136&amp;post=445&amp;subd=manhajparashalafussholih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak wanita di jaman ini yang merelakan dirinya menjadi komoditi. Tidak hanya wajah dan tubuhnya yang menjadi barang dagangan, suaranya pun bisa mendatangkan banyak rupiah</p>
<p>Ukhti Muslimah….<br />
Suara empuk dan tawa canda seorang wanita terlalu sering kita dengarkan di sekitar kita, baik secara langsung atau lewat radio dan televisi. Terlebih lagi bila wanita itu berprofesi sebagai penyiar atau MC karena memang termasuk modal utamanya adalah suara yang indah dan merdu.</p>
<p>Begitu mudahnya wanita tersebut memperdengarkan suaranya yang bak buluh perindu, tanpa ada rasa takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Padahal Dia telah memperingatkan:<br />
“Maka janganlah kalian merendahkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginan jeleklah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang ma‘ruf.” (Al Ahzab: 32)<br />
<span id="more-445"></span><br />
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga telah bersabda :<br />
“Wanita itu adalah aurat, apabila ia keluar rumah maka syaitan menghias-hiasinya (membuat indah dalam pandangan laki-laki sehingga ia terfitnah)”. (HR. At Tirmidzi, dishahihkan dengan syarat Muslim oleh Asy Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi`i dalam Ash Shahihul Musnad, 2/36).</p>
<p>Suara merupakan bagian dari wanita sehingga suara termasuk aurat, demikian fatwa yang disampaikan Asy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan dan Asy Syaikh Abdullah bin Abdirrahman Al Jibrin sebagaimana dinukil dalam kitab Fatawa Al Mar’ah Al Muslimah (1/ 431, 434)</p>
<p>Para wanita diwajibkan untuk menjauhi setiap perkara yang dapat mengantarkan kepada fitnah. Apabila ia memperdengarkan suaranya, kemudian dengan itu terfitnahlah kaum lelaki, maka seharusnya ia menghentikan ucapannya. Oleh karena itu para wanita diperintahkan untuk tidak mengeraskan suaranya ketika bertalbiyah1. Ketika mengingatkan imam yang keliru dalam shalatnya, wanita tidak boleh memperdengarkan suaranya dengan ber-tashbih sebagaimana laki-laki, tapi cukup menepukkan tangannya, sebagaimana tuntunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:<br />
“Ucapan tashbih itu untuk laki-laki sedang tepuk tangan untuk wanita”. (HR. Al Bukhari no. 1203 dan Muslim no. 422)</p>
<p>Demikian pula dalam masalah adzan, tidak disyariatkan bagi wanita untuk mengumandangkannya lewat menara-menara masjid karena hal itu melazimkan suara yang keras.</p>
<p>Ketika terpaksa harus berbicara dengan laki-laki dikarenakan ada kebutuhan, wanita dilarang melembutkan dan memerdukan suaranya sebagaimana larangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Al-Ahzab di atas. Dia dibolehkan hanya berbicara seperlunya, tanpa berpanjang kata melebihi keperluan semula.</p>
<p>Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah u berkata dalam tafsirnya: “Makna dari ayat ini (Al-Ahzab: 32), ia berbicara dengan laki-laki yang bukan mahramnya tanpa melembutkan suaranya, yakni tidak seperti suaranya ketika berbicara dengan suaminya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/491).</p>
<p>Maksud penyakit dalam ayat ini adalah syahwat (nafsu/keinginan) berzina yang kadang-kadang bertambah kuat dalam hati ketika mendengar suara lembut seorang wanita atau ketika mendengar ucapan sepasang suami istri, atau yang semisalnya.</p>
<p>Suara wanita di radio<br />
dan telepon</p>
<p>Asy Syaikh Muhammad Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya: “Bolehkah seorang wanita berprofesi sebagai penyiar radio, di mana ia memperdengarkan suaranya kepada laki-laki yang bukan mahramnya? Apakah seorang laki-laki boleh berbicara dengan wanita melalui pesawat telepon atau secara langsung?”<br />
Asy Syaikh menjawab: “Apabila seorang wanita bekerja di stasiun radio maka dapat dipastikan ia akan ikhtilath (bercampur baur) dengan kaum lelaki. Bahkan seringkali ia berdua saja dengan seorang laki-laki di ruang siaran. Yang seperti ini tidak diragukan lagi kemungkaran dan keharamannya. Telah jelas sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:<br />
“Jangan sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita.”</p>
<p>Ikhtilath yang seperti ini selamanya tidak akan dihalalkan. Terlebih lagi seorang wanita yang bekerja sebagai penyiar radio tentunya berusaha untuk menghiasi suaranya agar dapat memikat dan menarik. Yang demikian inipun merupakan bencana yang wajib dihindari disebabkan akan timbulnya fitnah.</p>
<p>Adapun mendengar suara wanita melalui telepon maka hal tersebut tidaklah mengapa dan tidak dilarang untuk berbicara dengan wanita melalui telepon. Yang tidak diperbolehkan adalah berlezat-lezat (menikmati) suara tersebut atau terus-menerus berbincang-bincang dengan wanita karena ingin menikmati suaranya. Seperti inilah yang diharamkan. Namun bila hanya sekedar memberi kabar atau meminta fatwa mengenai suatu permasalahan tertentu, atau tujuan lain yang semisalnya, maka hal ini diperbolehkan. Akan tetapi apabila timbul sikap-sikap lunak dan lemah-lembut, maka bergeser menjadi haram. Walaupun seandainya tidak terjadi yang demikian ini, namun tanpa sepengetahuan si wanita, laki-laki yang mengajaknya bicara ternyata menikmati dan berlezat-lezat dengan suaranya, maka haram bagi laki-laki tersebut dan wanita itu tidak boleh melanjutkan pembicaraannya seketika ia menyadarinya.</p>
<p>Sedangkan mengajak bicara wanita secara langsung maka tidak menjadi masalah, dengan syarat wanita tersebut berhijab dan aman dari fitnah. Misalnya wanita yang diajak bicara itu adalah orang yang telah dikenalnya, seperti istri saudara laki-lakinya (kakak/adik ipar), atau anak perempuan pamannya dan yang semisal mereka.” (Fatawa Al Mar‘ah Al Muslimah, 1/433-434).</p>
<p>Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman Al Jibrin menambahkan dalam fatwanya tentang permasalahan ini: “Wajib bagi wanita untuk bicara seperlunya melalui telepon, sama saja apakah dia yang memulai menelepon atau ia hanya menjawab orang yang menghubunginya lewat telepon, karena ia dalam keadaan terpaksa dan ada faidah yang didapatkan bagi kedua belah pihak di mana keperluan bisa tersampaikan padahal tempat saling berjauhan dan terjaga dari pembicaraan yang mendalam di luar kebutuhan dan terjaga dari perkara yang menyebabkan bergeloranya syahwat salah satu dari kedua belah pihak. Namun yang lebih utama adalah meninggalkan hal tersebut kecuali pada keadaan yang sangat mendesak.” (Fatawa Al Mar`ah, 1/435)</p>
<p>Laki-laki berbicara lewat telepon dengan wanita yang telah dipinangnya</p>
<p>Kenyataan yang ada di sekitar kita, bila seorang laki-laki telah meminang seorang wanita, keduanya menilai hubungan mereka telah teranggap setengah resmi sehingga apa yang sebelumnya tidak diperkenankan sekarang dibolehkan. Contoh yang paling mudah adalah masalah pembicaraan antara keduanya secara langsung ataupun lewat telepon. Si wanita memperdengarkan suaranya dengan mendayu-dayu karena menganggap sedang berbincang dengan calon suaminya, orang yang bakal menjadi kekasih hatinya. Pihak laki-laki juga demikian, menyapa dengan penuh kelembutan untuk menunjukkan dia adalah seorang laki-laki yang penuh kasih sayang. Tapi sebenarnya bagaimana timbangan syariat dalam permasalahan ini?</p>
<p>Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan menjawab:” Tidak apa-apa seorang laki-laki berbicara lewat telepon dengan wanita yang telah dipinangnya (di-khitbah-nya), apabila memang pinangannya (khitbah) telah diterima. Dan pembicaraan itu dilakukan untuk saling memberikan pengertian, sebatas kebutuhan dan tidak ada fitnah di dalamnya. Namun bila keperluan yang ada disampaikan lewat wali si wanita maka itu lebih baik dan lebih jauh dari fitnah. Adapun pembicaraan antara laki-laki dan wanita, antara pemuda dan pemudi, sekedar perkenalan (ta‘aruf) –kata mereka- sementara belum ada khithbah di antara mereka, maka ini perbuatan yang mungkar dan haram, mengajak kepada fitnah dan menjerumuskan kepada perbuatan keji. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman:<br />
“Maka janganlah kalian merendahkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginan jeleklah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang ma‘ruf.” (Al-Ahzab: 32) (Fatawa Al Mar‘ah, 2/605) ?</p>
<p>(Disusun dan dikumpulkan dari fatwa Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Asy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan dan Asy Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin oleh Ummu Ishaq Al Atsariyah dan Ummu ‘Affan Nafisah bintu Abi Salim).</p>
<br />Filed under: <a href='http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/category/fiqh/adab-dan-akhlaq/'>Adab Dan Akhlaq</a>, <a href='http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/category/al-islam/'>Al Islam</a>, <a href='http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/category/muslimah/'>Muslimah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/manhajparashalafussholih.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/manhajparashalafussholih.wordpress.com/445/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/manhajparashalafussholih.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/manhajparashalafussholih.wordpress.com/445/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/manhajparashalafussholih.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/manhajparashalafussholih.wordpress.com/445/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/manhajparashalafussholih.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/manhajparashalafussholih.wordpress.com/445/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/manhajparashalafussholih.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/manhajparashalafussholih.wordpress.com/445/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/manhajparashalafussholih.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/manhajparashalafussholih.wordpress.com/445/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/manhajparashalafussholih.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/manhajparashalafussholih.wordpress.com/445/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manhajparashalafussholih.wordpress.com&amp;blog=13180136&amp;post=445&amp;subd=manhajparashalafussholih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/2010/06/09/dibalik-kelembutan-suaramu-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7858978ea34282df8be0bcf95f2d041e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">manhajparashalafussholih</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Larangan (النَّـهْــي)</title>
		<link>http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/2010/06/05/larangan-%d8%a7%d9%84%d9%86%d9%91%d9%8e%d9%80%d9%87%d9%92%d9%80%d9%80%d9%8a/</link>
		<comments>http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/2010/06/05/larangan-%d8%a7%d9%84%d9%86%d9%91%d9%8e%d9%80%d9%87%d9%92%d9%80%d9%80%d9%8a/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jun 2010 05:19:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/?p=440</guid>
		<description><![CDATA[Larangan (النَّـهْــي) DEFINISINYA : Larangan (النهي) adalah : قول يتضمن طلب الكف على وجه الاستعلاء بصيغة مخصوصة هي المضارع المقرون بلا الناهية “Perkataan yang mengandung permintaan untuk menahan diri dari suatu perbuatan dalam bentuk isti’la’ (dari atas ke bawah) dengan bentuk khusus yaitu fi’il mudhori’ yang didahului dengan (لاَ النَاهِية) ‘la nahiyah’ (Yakni [لا] yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manhajparashalafussholih.wordpress.com&amp;blog=13180136&amp;post=440&amp;subd=manhajparashalafussholih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Larangan (النَّـهْــي)</strong></span><strong> </strong></p>
<p>DEFINISINYA :</p>
<p>Larangan (النهي) adalah :</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong>قول يتضمن طلب الكف على وجه الاستعلاء بصيغة مخصوصة هي  المضارع المقرون بلا الناهية </strong></span><br />
</span></div>
<p>“Perkataan yang mengandung permintaan  untuk menahan diri dari suatu perbuatan dalam bentuk isti’la’ (dari atas ke  bawah) dengan bentuk khusus yaitu fi’il mudhori’ yang didahului dengan (لاَ  النَاهِية) ‘la nahiyah’ (Yakni [لا] yang bermakna larangan, pent).”<br />
Seperti firman Allah :</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ<br />
</strong></span><br />
</span></div>
<p>“Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu orang-orang yang mendustakan  ayat-ayat kami dan orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat.”  (Al-An’am:105).</p>
<p>Keluar dari perkataan kami : (قول) “perkataan” : isyarat (الإشارة), maka  isyarat tidak dinamakan sebagai larangan walaupun maknanya memiliki faidah  sebagai larangan.</p>
<p>Keluar dari perkataan kami : (طلب الكف) “permintaan untuk menahan diri dari  suatu perbuatan”: perintah (الأمر), karena perintah adalah permintaan untuk  melakukan suatu perbuatan.”</p>
<p>Keluar dari perkataan kami : (على وجه الاستعلاء) “dalam bentuk isti’la’” :  sejajar (الالتماس) dan doa (الدعاء), dan yang selainnya yang memberi faidah  larangan dengan adanya qorinah.</p>
<p>Keluar dari perkataan kami : (بصيغة مخصوصة هي المضارع المقرون بلا الناهية)  “dengan bentuk khusus yaitu fi’il mudhori’ yang didahului dengan la nahiyah” :  apa-apa yang menunjukkan atas permintaan menahan diri dari sesuatu dengan bentuk  perintah (صيغة الأمر), seperti : (دع) “tinggalkan”, (اترك) “tinggalkan”, (كف)  “cukup”, dan yang selainnya, maka walaupun ini mengandung permintaan untuk  menahan diri dari sesuatu, tapi fi’il-fi’il tersebut dalam bentuk perintah (صيغة  الأمر), maka fi’il-fi’il tersebut adalah bermakna perintah, bukan larangan.</p>
<p>Dan terkadang yang selain bentuk larangan (صيغة النهي) memberi faidah  permintaan untuk menahan diri dari suatu perbuatan seperti suatu perbuatan yang  disifati dengan keharoman, larangan atau keburukan, atau atau pelakunya dicela,  atau mengerjakannya mendapat adzab.<br />
<span id="more-440"></span><br />
<strong>APA-APA YANG MENJADI KOSEKUENSI BENTUK LARANGAN (صيغة  النهي):</strong></p>
<p>Bentuk larangan secara mutlak menunjukkan keharoman dan rusaknya sesuatu yang  dilarang tersebut .<br />
Diantara dalil-dalil bahwa larangan itu menunjukkan  keharoman adalah firman Allah ta’ala :</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ  فَانْتَهُوا<br />
</strong></span><br />
</span></div>
<p>“Apa-apa (perintah) yang datang kepada kalian dari Rosul maka ambillah  (kerjakanlah) dan apa-apa yang dilarang oleh rosul maka berhentilah  (tinggalkanlah)” (Al-Hasyr : 7)</p>
<p>Maka perintah untuk berhenti (meninggalkan dari apa yang dilarang)  menunjukkan wajibnya berhenti, dan konsekuensinya adalah haramnya mengerjakan  perbuatan tersebut.</p>
<p>Diantara dalil-dalil bahwa larangan itu menunjukkan rusaknya suatu perbuatan  adalah sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam adalah :</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد<br />
</strong></span><br />
</span></div>
<p>“Barang siapa yang mengerjakan suatu perbuatan yang tidak ada padanya  perintah kami maka perbuatan tersebut tertolak.”</p>
<p>Yakni ditolak (مردود), dan apa-apa yang Nabi shollallahu alaihi wa sallam  melarang dari mengerjakannya, maka tidak ada padanya perintah Nabi shollallahu  alaihi wa sallam, sehingga perbuatan tersebut merupakan perbuatan yang  ditolak.</p>
<p>Demikian dan dalam kaidah al-madzhab (maksudnya adalah madzhab hambali, pent)  dalam perbuatan yang dilarang; apakah perbuatan tersebut menjadi batal atau  tetap sah dengan adanya pengharaman (terhadap perbuatan tersebut)? adalah  sebagai berikut :</p>
<p>1. Bahwa larangan tersebut kembali pada dzat yang dilarang atasnya atau  syaratnya maka sesuatu itu menjadi batal.</p>
<p>2. Bahwa larangan tersebut kembali pada perkara luar yang tidak berhubungan  dengan dzat yang dilarang atasnya dan tidak pula berhubungan dengan syaratnya  maka sesuatu itu tidak menjadi batal.</p>
<p>Misal larangan yang kembali pada dzat yang dilarang dalam masalah ibadah  adalah : Larangan untuk berpuasa pada dua hari Ied.</p>
<p>Misal larangan yang kembali pada dzat yang dilarang dalam masalah mu’amalah  adalah : Larangan untuk berjual beli setelah adzan sholat jum’at yang kedua bagi  orang-orang yang wajib sholat jum’at.<br />
Misal larangan yang kembali pada  syaratnya dalam masalah ibadah adalah : Larangan bagi laki-laki untuk memakai  pakaian dari sutera, menutup aurat adalah syarat sahnya sholat, jika dia  menutupnya dengan pakaian yang dilarang atasnya, maka sholatnya tidak sah karena  larangan tersebut kembali pada syaratnya.</p>
<p>Misal larangan yang kembali pada syaratnya dalam masalah mu’amalah adalah :  Larangan untuk berjual beli dengan suatu binatang yang masih berada dalam perut  induknya, maka pengetahuan tentang sesuatu yang akan diperjual belikan adalah  syarat sahnya jual beli, jika seseorang berjual beli dengan suatu binatang yang  masih berada dalam perut induknya, maka jual beli tersebut tidak sah karena  larangan tersebut kembali pada syaratnya[*].</p>
<p>Misal larangan yang kembali pada perkara luar dalam masalah ibadah adalah :  larangan bagi laki-laki untuk memakai imamah dari sutera, jika dia sholat dan  memakai imamah dari sutera maka sholatnya tidak batal, karena larangan tidak  kembali kepada dzatnya sholat dan syaratnya.</p>
<p>Misal larangan yang kembali pada perkara luar dalam masalah mu’amalah adalah  : larangan untuk menipu, maka jika seseorang melakukan jual beli sesuatu dengan  menipu, jual beli tersebut tidak batal karena larangan tidak kembali pada  dzatnya jual beli dan syaratnya.</p>
<p>Dan terkadang suatu larangan keluar dari hukum haram kepada hukum lain dengan  dalil yang menunjukkan hal itu, diantaranya :</p>
<p>1. Makruh, mereka (ulama ushul fiqh, pent) memberi permisalan hal itu dengan  sabda Nabi shollallahu alai wa sallam :</p>
<p>“Janganlah salah seorang diantara kalian menyentuh kemaluannya dengan tangan  kanan ketika sedang kencing.”, maka jumhur ulama mengatakan : “Sesungguhnya  larangan disini adalah menunjukkan kemakruhan, karena kemaluan adalah salah satu  bagian tubuh manusia, dan hikmah dari larangan tersebut adalah mensucikan tangan  kanan.”</p>
<p>2. Sebagai arahan, misalnya sabda Nabi shollallahu alaihi wa sallam kepada  Mu’adz :” Janganlah kamu meninggalkan untuk membaca disetiap akhir sholat :</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
اللهم أعنّي على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك<br />
</strong></span><br />
</span></div>
<p>“Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu dan  untuk memperbaiki ibadahku kepada-Mu.”</p>
<p>ORANG YANG MASUK DALAM PEMBICARAAN PERINTAH DAN LARANGAN :</p>
<p>Orang yang masuk dalam pembicaraan perintah dan larangan adalah Mukallaf,  yaitu orang yang telah baligh dan berakal.</p>
<p>Maka keluar dari perkataan kami : “orang yang telah baligh”: anak kecil, maka  dia tidak dibebani perintah dan larangan dengan pembebanan yang sama sebagaimana  beban orang yang telah baligh, tetapi dia diperintahkan untuk melakukan ibadah  setelah mencapai tamyiz, sebagai latihan baginya dalam ketaatan dan melarang  dari kemaksiatan, agar terbiasa menahan diri darinya.</p>
<p>Dan keluar dari perkataan kami : “orang yang berakal” : orang gila, maka dia  tidak dibebani perintah dan larangan, tetapi dia dicegah dari apa-apa yang  melampaui batas terhadap orang lain atau dari melakukan kerusakan, dan  seandainya dia melakukan sesuatu yang diperintahkan atasnya, maka perbuatan  tersebut tidak sah, karena tidak ada maksud untuk melaksanakan perintah Allah  didalamnya.</p>
<p>Dan tidak termasuk atas hal ini diwajibkannya zakat dan hak-hak harta bagi  harta anak kecil dan orang gila, karena kewajiban atas hal ini terikat dengan  sebab yang tertentu, kapan didapatkan sebab itu (misalnya : haul dan nishob  sebagai sebab wajibnya zakat mal, pent) maka ditetapkan hukumnya, maka  sesungguhnya masalah ini dilihat pada sebabnya bukan pada pelakunya!</p>
<p>Dan taklif (pembebanan) dengan perintah dan larangan mencakup untuk orang  Islam dan orang kafir, tetapi orang kafir tidak sah jika ia melakukan perbuatan  yang diperintahkan disebabkan kekafirannya, berdasarkan firman Allah ta’ala  :</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا  أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِه<br />
</strong></span><br />
</span></div>
<p>“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka  nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya”  (At-Taubah : 54).</p>
<p>Dan ia tidak diperintahkan untuk meng-qodho’nya seandainya ia masuk islam,  berdasarkan firman Allah ta’ala :</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ  سَلَفَ<br />
</strong></span><br />
</span></div>
<p>“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: “Jika mereka berhenti (dari  kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka  yang sudah lalu” (Al-Anfal : 38).</p>
<p>Dan sabda Nabi Shollallohu alaihi wa sallam kepada Amr bin Ash :</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
أما علمت يا عمرو أن الإسلام يهدم ما كان قبله<br />
</strong></span><br />
</span></div>
<p>“Apakah kamu tidak mengetahui wahai Amr, bahwa islam menghapus apa-apa  (dosa-dosa, pent) yang telah lalu”</p>
<p>Dan hanya saja dia akan disiksa disebabkan ia meninggalkannya (perintah,  pent) jika ia mati dalam kekafiran, berdasarkan firman Allah ta’ala sebagai  jawaban kepada orang-orang yang berdosa ketika mereka ditanya :</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ  وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ وَكُنَّا  نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ حَتَّى أَتَانَا الْيَقِينُ<br />
</strong></span><br />
</span></div>
<p>“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka menjawab: “Kami  dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula)  memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama  dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari  pembalasan,hingga datang kepada kami kematian”&#8221; (Al-Muddatsir : 32-37).</p>
<p>[Diterjemahkan oleh Ummu SHilah Zaujuha. Catatan kaki dari Abu SHilah,  bukan dari kitab Ushul min Ilmil Ushul]</p>
<hr />
Catatan Kaki :</p>
<p>(*) asy-Syaikh Zakariyya bin Ghulam Qodir al-Bakistani berkata : “Perbuatan  yang dilarang pada waktu kapanpun kemudian pada sebagian waktu ia bergandengan  dengan perbuatan yang diperintahkan, maka ini tidak masuk dalam kaidah “larangan  menunjukkan rusak/tidak sah-nya perbuatan” (النهي يدل على الفساد) dan perbuatan  yang diperintahkan tersebut tetap sah.</p>
<p>Misalnya : memakai pakaian dari sutra adalah dilarang dan sholat adalah  diperintahkan, jika seseorang sholat dengan pakaian sutra maka sholatnya tidak  batal karena larangan memakai pakaian sutra tidaklah berhubungan dengan sholat,  bahkan larangan tersebut adalah untuk waktu kapanpun dan mutlak. Akan tetapi  seandainya dalam syari’at ada larangan sholat memakai pakaian dari sutra maka  batallah sholatnya seseorang yang sholat memakai pakaian dari sutra. [Lihat  Ushulul Fiqh ‘ala Manhaji Ahlil Hadits, bab an-Nahyu]</p>
<p>Yakni sholatnya sah tapi ia berdosa karena memakai pakaian dari sutra. Dan  asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh al-’Utsaimin dalam syarahnya telah menjelaskan  bahwa tentang masalah ini ada khilaf.</p>
<p>Contoh yang lebih tepat adalah : riya’ adalah dilarang dan zakat adalah  diperintahkan, jika seseorang mengeluarkan zakat dengan niat ingin dipuji orang  dan niat-niat lainnya yang termasuk riya’, padahal niat yang benar merupakan  syarat sah-nya suatu amal, maka zakatnya tersebut tidak sah dan ia wajib  mengeluarkan zakatnya lagi.</p>
<p>Dan riya’ -sebagaimana penjelasan para ‘ulama- adalah bisa membatalkan amal,  dimana syarat sah amal adalah : ikhlas dan ittiba’. Walaupun dalam masalah ini  ada perinciannya, yakni tidak semua amal yang tercampur dengan riya’ menjadi  batal atau tidak sah.</p>
<p>والله أعلم</p>
<br />Filed under: <a href='http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/category/al-hadits/'>Al Hadits</a>, <a href='http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/category/aqidah/'>Aqidah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/manhajparashalafussholih.wordpress.com/440/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/manhajparashalafussholih.wordpress.com/440/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/manhajparashalafussholih.wordpress.com/440/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/manhajparashalafussholih.wordpress.com/440/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/manhajparashalafussholih.wordpress.com/440/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/manhajparashalafussholih.wordpress.com/440/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/manhajparashalafussholih.wordpress.com/440/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/manhajparashalafussholih.wordpress.com/440/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/manhajparashalafussholih.wordpress.com/440/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/manhajparashalafussholih.wordpress.com/440/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/manhajparashalafussholih.wordpress.com/440/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/manhajparashalafussholih.wordpress.com/440/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/manhajparashalafussholih.wordpress.com/440/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/manhajparashalafussholih.wordpress.com/440/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manhajparashalafussholih.wordpress.com&amp;blog=13180136&amp;post=440&amp;subd=manhajparashalafussholih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/2010/06/05/larangan-%d8%a7%d9%84%d9%86%d9%91%d9%8e%d9%80%d9%87%d9%92%d9%80%d9%80%d9%8a/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7858978ea34282df8be0bcf95f2d041e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">manhajparashalafussholih</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perintah (الأمر)</title>
		<link>http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/2010/06/05/perintah-%d8%a7%d9%84%d8%a3%d9%85%d8%b1/</link>
		<comments>http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/2010/06/05/perintah-%d8%a7%d9%84%d8%a3%d9%85%d8%b1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jun 2010 05:14:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/?p=438</guid>
		<description><![CDATA[لأمر PERINTAH DEFINISINYA : قول يتضمن طلب الفعل على وجه الاستعلاء Perintah (الأمر) adalah : “Perkataan yang mengandung permintaan untuk dilakukannya suatu perbuatan, dalam bentuk al-isti’la (dari yang lebih tinggi ke yang lebih rendah, seperti Allah memerintahkan hamba-Nya. pent). Keluar dari perkataan kami : (قول) “perkataan” ; Isyarat, maka isyarat tidak dinamakan perintah, walaupun maknanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manhajparashalafussholih.wordpress.com&amp;blog=13180136&amp;post=438&amp;subd=manhajparashalafussholih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#ff0000;"><strong><strong>لأمر</strong></strong></span><strong> </strong></p>
<p><strong>PERINTAH </strong><strong>DEFINISINYA :</strong></p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong>قول يتضمن طلب الفعل على وجه الاستعلاء</strong></span><br />
</span></div>
<p>Perintah (الأمر) adalah : “Perkataan yang mengandung permintaan untuk dilakukannya suatu perbuatan, dalam bentuk al-isti’la (dari yang lebih tinggi ke yang lebih rendah, seperti Allah memerintahkan hamba-Nya. pent).</p>
<p><a id="more-35"></a>Keluar dari perkataan kami : (قول) “perkataan” ; Isyarat, maka isyarat tidak dinamakan perintah, walaupun maknanya memberi faidah perintah.</p>
<p>Keluar dari perkataan kami : (طلب الفعل) ” permintaan untuk dilakukannya suatu perbuatan” ; larangan, karena larangan merupakan permintaan untuk meninggalkan sesuatu, dan yang dimaksud dengan perbuatan adalah mewujudkan sesuatu, maka (perbuatan tersebut, pent) mencakup perkataan/ucapan yang diperintahkan.</p>
<p>Keluar dari perkataan kami : (على وجه الاستعلاء) “dalam bentuk isti’la” ; al-iltimas (setara/sejajar/selevel, pent) dan do’a (dari yang lebih rendah kepada yang lebih tinggi, pent) dan yang selainnya yang diambil dari bentuk perintah dengan adanya qorinah (yakni konteks kalimatnya bukan sebagai perintah, pent).</p>
<p><strong>BENTUK-BENTUK PERINTAH :</strong></p>
<p>Bentuk-bentuk perintah ada empat :</p>
<p>1. Fi’il amr (فعل الأمر),</p>
<p>Contohnya :</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ<br />
</strong></span><br />
</span></div>
<p>“Bacalah apa-apa yang diwahyukan kepadamu dari Al-Kitab” (Al-Ankabut :45)<br />
<span id="more-438"></span><br />
2. Isim fi’il amr (اسم فعل الأمر),</p>
<p>Contohnya :</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
حيّ على الصلاة<br />
</strong></span><br />
</span></div>
<p>“Marilah kita sholat”</p>
<p>3. Masdar pengganti dari fi’il amr (المصدر النائب عن فعل الأمر),</p>
<p>Contohnya :</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
فَإِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا فَضَرْبَ الرِّقَاب<br />
</strong></span><br />
</span></div>
<p>“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka.” (Muhammad : 4)</p>
<p>4. Fi’il Mudhori’  yang bersambung dengan lam amr (المضارع المقرون بلام الأمر),</p>
<p>Contohnya :</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ<br />
</strong></span><br />
</span></div>
<p>“Supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya” (Al-Mujadalah:4)</p>
<p>Dan terkadang yang selain bentuk perintah memberi faidah permintaan untuk dilakukannya suatu perbuatan seperti suatu perbuatan yang disifati dengan hukum fardhu atau wajib atau mandub (disukai) atau merupakan ketaatan atau pelakunya dipuji atau yang meninggalkannya dicela atau  mengerjakannya mendapat ganjaran atau meninggalkannya mendapat adzab.</p>
<p>Yang ditunjukkan dari bentuk perintah (صيغة الأمر):</p>
<p>Bentuk perintah secara mutlak/ umum memberi konsekuensi: wajibnya sesuatu yang diperintahkan dan bersegera (المبادرة) dalam melakukannya secara langsung.</p>
<p>Diantara dalil-dalil yang menunjukkan bahwa bentuk perintah memberi konsekuensi wajib adalah firman Allah ta’ala :</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ<br />
</strong></span><br />
</span></div>
<p>“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul, takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa azab yang pedih” (an-Nur : 63)</p>
<p>Segi pendalilannya bahwasanya Allah memperingatkan kepada orang-orang yang menyelisihi perintah Rosul shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka akan tertimpa fitnah yaitu kesesatan atau mereka akan ditimpa dengan adzab yang pedih, yang demikian itu tidaklah terjadi melainkan dengan meninggalkan kewajiban, maka ini menunjukkan bahwa perintah Rosullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara mutlak/ umum menunjukkan wajibnya perbuatan yang diperintahkan.</p>
<p>Dan diantara dalil-dalil yang menunjukkan bahwa bentuk perintah menunjukkan untuk segera dilakukan secara langsung adalah firman Allah ta’ala :</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
فأستبقوا الخيرات<br />
</strong></span><br />
</span></div>
<p>“Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan” (Al-Baqoroh : 148)</p>
<p>Dan semua yang diperintahkan secara syar’i merupakan kebaikan, dan perintah untuk berlomba-lomba dalam mengerjakannya merupakan dalil wajibnya bersegera.</p>
<p>Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci ketika para sahabat menunda-nunda apa yang diperintahkan kepada mereka dari menyembelih dan mencukur rambut pada hari perjanjian Hudaibiyyah, sampai Rosullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk mendatangi Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha maka beliau menceritakan kepadanya apa yang beliau dapatkan dari sikap para sahabat (yang menunda-nunda perintahnya, pent). [HR. Ahmad dan Al-Bukhori].</p>
<p>Dan karena bersegera dalam melakukan suatu perbuatan (yang diperintahkan, pent) adalah lebih hati-hati dan lebih membebaskan dari tanggungan, dan menunda-nunda melakukan perbuatan yang diperintahkan merupakan cacat, dan memberi konsekuensi bertumpuknya kewajiban-kewajiban sehingga seseorang menjadi tidak sanggup mengerjakannya.</p>
<p>Dan terkadang perintah keluar dari hukum wajib dan bersegera dengan adanya dalil yang menunjukkan demikian maka perintah keluar dari hukum wajib kepada beberapa makna (hukum), diantaranya :</p>
<p>1. Mandub (disukai), seperti firman Allah ta’ala :</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
وأشهدوا اذا تبايعتم<br />
</strong></span><br />
</span></div>
<p>“Dan datangkanlah saksi jika kalian berjual beli” (Al-Baqoroh : 282)</p>
<p>Perintah untuk mendatangkan saksi atas jual beli hukumnya adalah mandub dengan dalil bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli kuda dari seorang A’robi (Arab Badui) dan beliau tidak mendatangkan saksi. [HR. Ahmad, An-Nasa’i, Abu Dawud, dan pada hadits tersebut terdapat suatu cerita].</p>
<p>2. Mubah (Boleh), dan kebanyakan yang terjadi adalah jika perintah tersebut datang setelah adanya larangan atau sebagai jawaban terhadap sesuatu yang disangka terlarang.</p>
<p>Contoh setelah adanya larangan : firman Allah ta’ala :</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
واذا حللتم فاصطادوا<br />
</strong></span><br />
</span></div>
<p>“Jika engkau telah bertahallul maka berburulah” (Al-Maidah : 2)</p>
<p>Perintah untuk berburu tersebut hukumnya mubah karena ia muncul setelah adanya larangan yang ditunjukkan dari firman Allah :</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
غير محلى الصيد وأنتم حرم<br />
</strong></span><br />
</span></div>
<p>“(Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang dalam keadaan ber-ihrom.” (Al-Maidah : 1)</p>
<p>Dan contoh sebagai jawaban terhadap sesuatu yang disangka terlarang adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
افعل ولا حرج<br />
</strong></span><br />
</span></div>
<p>“Lakukanlah, tidak mengapa!” [Muttafaqun alaih], sebagai jawaban atas orang yang bertanya kepada beliau pada haji wada’ tentang mendahulukan amalan-amalan haji yang satu terhadap yang lainnya yang dikerjakan pada hari Ied.</p>
<p>3. Ancaman seperti pada firman Allah ta’ala :</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ<br />
</strong></span><br />
</span></div>
<p>“Berbuatlah semau kalian, sesungguhnya Allah Maha Melihat terhadap apa-apa yang kalian kerjakan.” (Fushshilat : 40)</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
فَمَن شَاء فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاء فَلْيَكْفُرْ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا<br />
</strong></span><br />
</span></div>
<p>“maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka” (Al-Kahfi: 29)</p>
<p>Penyebutan ancaman setelah adanya perintah yang disebutkan tadi merupakan dalil bahwa perintah tersebut adalah sebagai ancaman.</p>
<p>Dan terkadang perintah keluar dari hukum bersegera kepada hukum boleh ditunda (التراخي).</p>
<p>Contohnya : Qodho’ puasa romadhon, maka seseorang diperintahkan untuk menunaikannya, akan tetapi ada dalil yang menunjukkan bahwa qodho’ tersebut boleh ditunda. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata :</p>
<div style="text-align:right;"><span style="color:#0000ff;"><span style="font-size:14pt;"><strong><br />
كان يكون عليّ الصوم من رمضان فما أستطيع أن أقضيه إلا في شعبان، وذلك لمكان رسول الله صلّى الله عليه وسلّم<br />
</strong></span><br />
</span></div>
<p>“Aku pernah mempunyai hutang puasa romadhon, aku tidak mampu untuk mengqodho’nya kecuali di bulan Sya’ban, yang demikian adalah karena kedudukan Rosullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [HR. Al-Jama’ah].</p>
<p>Dan seandainya mengakhirkannya adalah haram maka Aisyah tidak akan diizinkan untuk mengakhirkan qodho’ tersebut.</p>
<p><strong>APA YANG TIDAK SEMPURNA SESUATU YANG DIPERINTAHKAN KECUALI DENGANNYA (ما لا يتم المأمور إلا به):</strong></p>
<p>Jika suatu perbuatan yang diperintahkan tidak bisa dikerjakan kecuali dengan sesuatu maka sesuatu tersebut adalah diperintahkan, jika yang diperintahkan adalah wajib maka sesuatu itu hukumnya juga wajib, dan jika yang diperintahkan adalah mandub maka sesuatu itu hukumnya mandub.</p>
<p>Contoh yang wajib : menutup aurat, jika tidak bisa dikerjakan kecuali dengan membeli pakaian, maka membeli pakaian tersebut hukumnya menjadi wajib.</p>
<p>Contoh yang mandub : memakai wewangian untuk sholat jum’at, jika tidak bisa dikerjakan kecuali dengan membeli wewangian, maka membeli wewangian tersebut hukumnya menjadi mandub.</p>
<p>Dan kaidah ini terkandung pada kaidah yang lebih umum darinya yaitu “hukum wasilah adalah sebagaimana hukum yang dituju”, Maka wasilah-wasilah untuk suatu yang diperintahkan hukumnya adalah diperintahkan juga, dan wasilah-wasilah yang suatu yang dilarang hukumnya adalah dilarang.</p>
<br />Filed under: <a href='http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/category/al-hadits/'>Al Hadits</a>, <a href='http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/category/aqidah/'>Aqidah</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/manhajparashalafussholih.wordpress.com/438/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/manhajparashalafussholih.wordpress.com/438/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/manhajparashalafussholih.wordpress.com/438/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/manhajparashalafussholih.wordpress.com/438/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/manhajparashalafussholih.wordpress.com/438/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/manhajparashalafussholih.wordpress.com/438/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/manhajparashalafussholih.wordpress.com/438/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/manhajparashalafussholih.wordpress.com/438/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/manhajparashalafussholih.wordpress.com/438/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/manhajparashalafussholih.wordpress.com/438/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/manhajparashalafussholih.wordpress.com/438/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/manhajparashalafussholih.wordpress.com/438/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/manhajparashalafussholih.wordpress.com/438/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/manhajparashalafussholih.wordpress.com/438/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manhajparashalafussholih.wordpress.com&amp;blog=13180136&amp;post=438&amp;subd=manhajparashalafussholih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/2010/06/05/perintah-%d8%a7%d9%84%d8%a3%d9%85%d8%b1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7858978ea34282df8be0bcf95f2d041e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">manhajparashalafussholih</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Di Manakah Alloh</title>
		<link>http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/2010/05/29/di-manakah-alloh/</link>
		<comments>http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/2010/05/29/di-manakah-alloh/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 May 2010 11:32:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/?p=434</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji bagi Allah, Yang Menetap Tinggi Di Atas ‘Arsy-Nya. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman. Dalam kesempatan kali ini, kami masih melanjutkan perkataan ulama masa silam mengenai di manakah Allah. Pembahasan ini memang cukup panjang. Namun ini semua kami torehkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manhajparashalafussholih.wordpress.com&amp;blog=13180136&amp;post=434&amp;subd=manhajparashalafussholih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Segala puji bagi Allah, Yang Menetap Tinggi Di Atas ‘Arsy-Nya. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman. </em></p>
<p>Dalam kesempatan kali ini, kami masih melanjutkan perkataan ulama masa silam mengenai di manakah Allah. Pembahasan ini memang cukup panjang. Namun ini semua kami torehkan dalam beberapa tulisan agar semakin memperjelas manakah aqidah yang mesti diyakini oleh seorang muslim dengan benar. Dari perkataan ulama masa silam yang akan kami sebutkan, para pembaca Rumaysho.com dapat menilai di manakah letak kekeliruan <span style="text-decoration:underline;">abu salafy cs</span> yang menyatakan dengan bahwa <span style="text-decoration:underline;">Allah tidak di langit</span>. Yang jelas aqidah yang beliau usung adalah aqidah orang-orang sesat di masa silam yaitu dari kalangan Jahmiyah, lalu beliau hidupkan kembali. Semoga tulisan kali ini pun dapat membongkar kedok Jahmiyah dan orang-orang yang mengikuti pemahaman menyimpang tersebut. <em>Ya Allah, berilah kemudahan dan tolonglah kami</em>.</p>
<p><span style="color:rgb(128,0,128);"><strong>Hisyam bin ‘Ubaidillah Ar Rozi<a href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a>, Ulama Hanafiyah, murid dari Muhammad bin Al Hasan </strong></span></p>
<p>Kita dapat saksikan dari perkataan beliau ini, bahwa orang yang masih ragu Allah di atas langit, ia dimintai taubatnya. Coba perhatikan secara seksama riwayat berikut ini.</p>
<p dir="rtl" align="center">
<h3>قال ابن أبي حاتم حدثنا علي بن الحسن بن يزيد السلمي سمعت أبي يقول سمعت هشام بن عبيد الله الرازي وحبس رجلا في التجهم فجيء به إليه ليمتحنه فقال له أتشهد أن الله على عرشه بائن من خلقه فقال لا أدري ما بائن من خلقه فقال ردوه فإنه لم يتب بعد</p>
</h3>
<p>Ibnu Abi Hatim mengatakan, ‘Ali bin Al Hasan bin Yazid As Sulami telah menceritakan kepada kami, ia berkata, ayahku berkata, “Aku pernah mendengar Hisyam bin ‘Ubaidillah Ar Rozi –ketika itu beliau menahan seseorang yang berpemikiran Jahmiyah, orang itu didatangkan pada beliau, lantas beliau pun mengujinya-. Hisyam bertanya padanya, “Apakah engkau bersaksi bahwa Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya.” Orang itu pun menjawab, “Aku tidak mengetahui apa itu terpisah dari makhluk-Nya.” Hisyam kemudian berkata, “Kembalikanlah ia karena ia masih belum bertaubat.”<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p><span style="color:rgb(128,0,128);">Pelajaran dari perkataan Hisyam ini:</span></p>
<ol start="1">
<span id="more-434"></span></p>
<li>Keyakinan      Allah di atas langit wajib diyakini oleh setiap muslim.</li>
<li>Orang      yang tidak meyakini hal ini setelah datang penjelasan yang begitu      gamblang, maka ia harus dimintai taubatnya.</li>
<li>Perlu      dipahami bahwa jika kita katakan Allah di atas langit, bukan berarti Allah      di dalam langit atau menempel dengan ‘Arsy sehingga dapat dipahami bahwa      Allah berada di dalam makhluk. Ini justru pemahaman yang keliru. Yang      mesti dipahami bahwa Allah itu terpisah dari makhluk-Nya sehingga Allah      berada di atas semua makhluk-Nya dan bukan berada di dalam langit. Inilah      yang diisyaratkan dalam perkataan Hisyam di atas.</li>
</ol>
<p><span style="color:rgb(128,0,128);"><strong>Nu’aim bin Hammad Al Khuza’i<a href="#_ftn3"><strong>[3]</strong></a>, Al Hafizh (pakar hadits)</strong></span></p>
<p dir="rtl" align="center"></h3>
<p>قال محمد بن مخلد العطار حدثنا الرمادي قال سألت نعيم ابن حماد عن قول الله تعالى هو معكم قال معناه أنه لا يخفى عليه خافية بعلمه ألا ترى قوله ما يكون من نجوى ثلاثة إلا هو رابعهم الآية</p>
</h3>
<p>Muhammad bin Mukhlid Al ‘Aththor, ia mengatakan, Ar Romadi menceritakan kepada kami, ia berkata, “Aku berkata pada Nu’aim bin Hammad mengenai firman Allah Ta’ala,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size:14pt;">هُوَ مَعَكُمْ</span></p>
<p>“Allah bersama kalian.” (QS. Al Hadiid: 4). Nu’aim bin Hammad mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah, “Tidak ada sesuatu pun dari ilmu Allah yang samar dari-Nya. Tidakkah kalian memperhatikan firman Allah,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size:14pt;">مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ</span></p>
<p><em>“Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya.” </em>(QS. Al Mujadilah: 7)<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p><span style="color:rgb(128,0,128);">Pelajaran penting dari perkataan Nu’aim bin Hammad:</span></p>
<p>Makna Allah itu bersama kalian adalah dengan ilmu-Nya dan bukan dengan Dzat Allah. Sehingga ayat semacam ini bukan menunjukkan Allah berada di mana-mana.</p>
<p><span style="color:rgb(128,0,128);"><strong>Basyr Al Haafi<a href="#_ftn5"><strong>[5]</strong></a>, Ulama yang Begitu Zuhud di Masanya</strong></span></p>
<p>Disebutkan oleh Adz Dzahabi,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size:14pt;">له عقيدة رواها ابن بطة في كتاب الإبانة وغيره فمما فيها والإيمان بأن الله على عرشه استوى كما شاء وأنه عالم بكل مكان</p>
<p></span></p>
<p>Basyr Al Haafi memilki pemahaman aqidah yang disebutkan oleh Ibnu Battoh dalam Al Ibanah dan selainnya, di antara perkataan beliau adalah: “Beriman bahwa Allah menetap tinggi (beristiwa’) di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana yang Allah kehendaki. Namun meski begitu, ilmu Allah di setiap tempat.”<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p><span style="color:rgb(128,0,128);">Pelajaran penting dari Basyr Al Haafi adalah:</span></p>
<p>Allah itu menetap tinggi di atas ‘Arsy. Meskipun jauh, Allah tetap mengetahui setiap tempat di muka bumi karena ilmu-Nya yang Maha Luas.</p>
<p><span style="color:rgb(128,0,128);"><strong>Ahmad bin Nashr Al Khuza’i<a href="#_ftn7"><strong>[7]</strong></a></strong></span></p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size:14pt;">قال إبراهيم الحربي فيما صح عنه قال أحمد بن نصر وسئل عن علم الله فقال علم الله معنا وهو على عرشه</p>
<p></span></p>
<p>Ibrahim Al Harbi berkata mengenai perkataan shahih darinya, yaitu Ahmad bin Nashr berkata ketika ditanya mengenai ilmu Allah, “Ilmu Allah selalu bersama kita, sedangkan Dzat-Nya tetep menetap tinggi di atas ‘Arsy-Nya.” <a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Pelajaran penting dari Ahmad bin Nashr adalah:</p>
<p>Allah tetap menetap tinggi di atas ‘Arsy-Nya bukan di mana-mana, sedangkan yang bersama kita adalah ilmu Allah.</p>
<p><span style="color:rgb(128,0,128);"><strong>Qutaibah bin Sa’id<a href="#_ftn9"><strong>[9]</strong></a>, Ulama Besar Khurosan</strong></span></p>
<p dir="rtl" align="center">
<h3>قال أبو أحمد الحاكم وأبو بكر النقاش المفسر واللفظ له حدثنا أبو العباس السراج قال سمعت قتيبة بن سعيد يقول هذا قول الأئمة في الإسلام والسنة والجماعة نعرف ربنا في السماء السابعة على عرشه كما قال جل جلاله الرحمن على العرش استوى وكذا نقل موسى بن هارون عن قتيبة أنه قال نعرف ربنا في السماء السابعة على عرشه</p>
</h3>
<p>Abu Ahmad Al Hakim dan Abu Bakr An Naqosy Al Mufassir (dan ini lafazh dari Abu Bakr), ia berkata, Abul ‘Abbas As Siroj telah menceritakan pada kami, ia berkata, aku mendengar Qutaibah bin Sa’id berkata, “Ini adalah perkataan para ulama besar Islam, Ahlus Sunnah wal Jama’ah: Kami meyakini bahwa Rabb kami berada di atas langit ketujuh di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p align="center"><span style="font-size:14pt;">الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى</span></p>
<p>“<em>Ar Rahman (yaitu Allah) menetap tinggi di atas ‘Arsy.</em>”<a href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p dir="rtl" align="center">
<h3>وكذا نقل موسى بن هارون عن قتيبة أنه قال نعرف ربنا في السماء السابعة على عرشه</p>
</h3>
<p>Begitu pula dinukil dari Musa bin Harun dari Qutaibah, ia berkata, “Kami meyakini bahwa Rabb kami berada di atas langit ketujuh, di atas ‘Arsy-Nya.”</p>
<p>Adz Dzahabi setelah membawakan perkataan Qutaibah, beliau mengatakan, “Inilah Qutaibah sudah dikenal kebesarannya dalam ilmu dan kejujurannya, beliau menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) mengenai keyakinan Allah di atas langit”. <a href="#_ftn11">[11]</a></p>
<p><span style="color:rgb(128,0,128);">Pelajaran dari Qutaibah bin Sa’id:</span></p>
<p>Adanya penukilan ijma’ (kesepakatan ulama) mengenai keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah bahwa Allah berada di ketinggian di atas ‘Arsy-Nya. Setelah ini kita juga akan menemukan nukilan ijma’ dari <span style="text-decoration:underline;">Ishaq bin Rohuwyah</span>.</p>
<p><span style="color:rgb(128,0,128);"><strong>Abu Ma’mar Al Qutai’iy<a href="#_ftn12"><strong>[12]</strong></a>, Guru dari Imam Bukhari dan Imam Muslim</strong></span></p>
<p dir="rtl" align="center">
<h3>نقل ابن أبي حاتم في تأليفه عن يحيى بن زكرياء عن عيسى عن أبي شعيب صالح الهروي عن أبي معمر إسماعيل بن إبراهيم أنه قال آخر كلام الجهمية أنه ليس في السماء إله</p>
</h3>
<p>Dinukil dari Ibnu Abi Hatim dalam karyanya, dari Yahya bin Zakariya, dari ‘Isa, dari Abu Syu’aib Sholih Al Harowiy, dari Abu Ma’mar Isma’il bin Ibrohim, beliau berkata, “Akhir dari perkataan Jahmiyah: Di atas langit (atau di ketinggian) tidak ada Allah yang disembah.”<a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p><span style="color:rgb(128,0,128);">Pelajaran dari Abu Ma’mar Al Qutai’iy:</span></p>
<p>Keyakinan di atas langit tidak ada siapa-siapa itulah keyakinan sesat dari Jahmiyah, yang lalu diusung kembali oleh orang belakangan semacam Abu Salafy cs.</p>
<p><span style="color:rgb(128,0,128);"><strong> ‘Ali bin Al Madini<a href="#_ftn14"><strong>[14]</strong></a>, Imam Para Pakar Hadits</strong></span></p>
<p dir="rtl" align="center">
<h3>قال شيخ الإسلام أبو إسماعيل الهروي أنبأنا محمد بن محمد بن عبد الله حدثنا أحمد بن عبد الله سمعت محمد بن إبراهيم بن نافع حدثنا الحسن بن محمد بن الحارث قال سئل علي بن المديني وأنا أسمع ما قول أهل الجماعة قال يؤمنون بالرؤية وبالكلام وأن الله عزوجل فوق السموات على عرشه استوى</p>
</h3>
<p>Syaikhul Islam Abu Isma’il Al Harowi mengatakan, Muhammad bin Muhammad bin ‘Abdillah menceritakan kepada kami, Ahmad bin Abdillah menceritakan kepada kami, aku mendengar Muhammad bin Ibrahim bin Naafi’ mengatakan, Al Hasan bin Muhammad bin Al Harits menceritakan kepada kami, ia berkata, ‘Ali bin Al Madini ditanya dan aku pun mendengarnya, “Apa perkataan dari Ahlul Jama’ah (Ahlus Sunnah)?” ‘Ali bin Al Madini mengatakan, “Mereka (Ahlus Sunnah) beriman pada ru’yah (Allah akan dilihat), mereka beriman bahwa Allah berbicara dan Allah berada di atas langit, menetap tinggi (beristiwa’) di atas ‘Arsy-Nya.”</p>
<p dir="rtl" align="center">
<h3>فسئل عن قوله تعالى ما يكون من نجوى ثلاثة إلا هو رابعهم فقال اقرأ ما قبله ألم تر أن الله يعلم قد أكثر البخاري في صحيحه عن علي بن المديني وقال ما استصغرت إلا بين يدي ابن المديني مات في ذي القعدة سنة أربع وثلاثين ومائتين</p>
</h3>
<p>Ali bin Al Madini juga ditanya mengenai firman Allah Ta’ala,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size:14pt;">مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ</span></p>
<p>“<em>Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya</em>.” (QS. Al Mujadilah: 7). Beliau pun menjawab, “Cobalah baca awal ayatnya,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size:14pt;">أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ</span></p>
<p>“<em>Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui.</em>” (QS. Al Mujadilah: 7)<a href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p><span style="color:rgb(128,0,128);">Pelajaran dari Ali bin Al Madini:</span></p>
<p>Lihatlah pelajaran yang sangat berharga dari ulama Robbani. Sebagian orang mengira maksud surat Al Mujadilah ayat 7 adalah Allah di mana-mana. Namun lihat bagaimanakah sanggahan dari Ali bin Al Madini? Cobalah baca awal ayat, itulah yang dimaksud. Jadi yang dimaksud adalah ilmu Allah yang di mana-mana dan bukan Dzat Allah.</p>
<p><span style="color:rgb(128,0,128);"><strong>Ishaq bin Rohuwyah<a href="#_ftn16"><strong>[16]</strong></a>, Ulama Besar Khurosan</strong></span></p>
<p dir="rtl" align="center">
<h3>قال حرب بن إسماعيل الكرماني قلت لإسحاق بن راهويه قوله تعالى ما يكون من نجوى ثلاثة إلا هو رابعهم كيف تقول فيه قال حيث ما كنت فهو أقرب إليك من حبل الوريد وهو بائن من خلقه</p>
</h3>
<p dir="rtl" align="center">
<h3>ثم ذكر عن ابن المبارك قوله هو على عرشه بائن من خلقه</p>
</h3>
<p dir="rtl" align="center">
<h3>ثم قال أعلى شيء في ذلك وأبينه قوله تعالى الرحمن على العرش استوى رواها الخلال في السنة عن حرب</p>
</h3>
<p>Harb bin Isma’il Al Karmani, ia berkata bahwa ia berkata pada Ishaq bin Rohuwyah mengenai firman Allah,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size:14pt;">مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ</span></p>
<p>“<em>Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya</em>.” (QS. Al Mujadilah: 7). Bagaimanakah pendapatmu mengenai ayat tersebut?”</p>
<p>Ishaq bin Rohuwyah menjawab, “Dia itu lebih dekat (dengan ilmu-Nya) dari urat lehermu. Namun Dzat-Nya terpisah dari makhluk. Kemudian beliau menyebutkan perkataan Ibnul Mubarok, “Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya.”</p>
<p>Lalu Ishaq bin Rohuwyah mengatakan, “Ayat yang paling gamblang dan paling jelas menjelaskan hal ini adalah firman Allah Ta’ala,</p>
<p align="center"><span style="font-size:14pt;">الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى</span></p>
<p>“<em>Ar Rahman (yaitu Allah) menetap tinggi di atas ‘Arsy.</em>”<a href="#_ftn17">[17]</a></p>
<p>Al Khollal meriwayatkannya dalam As Sunnah dari Harb.<a href="#_ftn18">[18]</a></p>
<p dir="rtl" align="center">
<h3>قال أبو بكر الخلال أنبأنا المروذي حدثنا محمد بن الصباح النيسابوري حدثنا أبو داود الخفاف سليمان بن داود قال قال إسحاق بن راهويه قال الله تعالى الرحمن على العرش استوى إجماع أهل العلم أنه فوق العرش استوى ويعلم كل شيء في أسفل الأرض السابعة اسمع ويحك إلى هذا الإمام كيف نقل الإجماع على هذه المسألة كما نقله في زمانه قتيبة المذكور</p>
</h3>
<p>“Abu Bakr Al Khollal mengatakan, telah mengabarkan kepada kami Al Maruzi. Beliau katakan, telah mengabarkan pada kami Muhammad bin Shobah An Naisaburi. Beliau katakan, telah mengabarkan pada kami Abu Daud Al Khonaf Sulaiman bin Daud. Beliau katakana, Ishaq bin Rohuwyah berkata, “Allah Ta’ala berfirman,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size:14pt;">الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى</span></p>
<p>“Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy”<a href="#_ftn19">[19]</a>. Para ulama sepakat (berijma’) bahwa Allah berada di atas ‘Arsy dan beristiwa’ (menetap tinggi) di atas-Nya. Namun Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang terjadi di bawah-Nya, sampai di bawah lapis bumi yang ketujuh.<a href="#_ftn20">[20]</a></p>
<p>Adz Dzahabi rahimahullah ketika membawakan perkataan Ishaq di atas, beliau rahimahullah mengatakan,</p>
<p align="center">
<h3>اسمع ويحك إلى هذا الإمام كيف نقل الإجماع على هذه المسألة كما نقله في زمانه قتيبة المذكور</p>
</h3>
<p>“Dengarkanlah perkataan Imam yang satu ini. Lihatlah bagaimana beliau menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) mengenai masalah ini. Sebagaimana pula ijma’ ini dinukil oleh Qutaibah di masanya.”<a href="#_ftn21">[21]</a></p>
<p><span style="color:rgb(128,0,128);">Pelajaran berharga dari Ishaq bin Rohuwyah:</span></p>
<ol start="1">
<li>Kalau      kita katakan Allah di atas langit atau di atas ‘Arsy-Nya, bukan berarti      Allah di dalam langit atau menempel pada ‘Arsy. Lihatlah penjelasan      gamblang dari Ishaq bin Rohuwyah bahwa Allah itu terpisah dari      makhluk-Nya, sehingga menunjukkan bahwa Allah bukan berada di dalam      langit.</li>
<li>Ini      menunjukkan bahwa pengertian langit tidak selamanya dengan bentuk langit      yang ada di benak kita karena langit sekali lagi bisa bermakna ketinggian.      Jadi jika kita katakan Allah fis samaa’, itu juga bisa berarti Allah di ketinggian.      Karena ini juga menunjukkan bahwa Allah tidak bersatu dengan makhluk.      Mohon bisa dipahami.</li>
<li>Pengertian      Allah itu bersama hamba tidak melazimkan bahwa Allah berada di mana-mana.      Allah tetap menetap tinggi di atas ‘Arsy-Nya, di atas seluruh makhluk-Nya,      sedangakan yang berada di mana-mana adalah ilmu Allah. Dan sekali lagi,      bukan Dzat Allah.</li>
<li>Sudah      ada dua nukilan ijma’ (kesepakatan ulama) yang menyatakan bahwa Allah berada      di atas langit, di atas seluruh makhluk-Nya. Sebelumnya pula kami sudah      sebutkan adanya ijma’ yang diklaim oleh Qutaibah dan sekarang oleh Ishaq      bin Rohuwyah. Lalu masihkah keyakinan ijma’ ini disangsikan? </li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pembahasan ini kami cukupkan dulu untuk sementara waktu. Masih banyak perkataan ulama yang kami nukil lagi dalam posting selanjutnya, terutama dari ulama pakar hadits semacam Bukhari, Abu Zur’ah dan lainnya. Semoga Allah mudahkan.</p>
<p>Semoga pelajaran-pelajaran berharga yang kami sajikan dalam tulisan kali ini bisa sebagai sepercik hidayah bagi yang ingin meraihnya. Hanya Allah yang beri taufik.</p>
<hr />
<p><a href="#_ftnref1">[1]</a> Hisyam bin ‘Ubaidillah Ar Rozi meninggal tahun 221 H.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 169. Riwayat ini juga dikeluarkan oleh Al Haruwi dalam “Dzammul Kalam” (1/120). Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 181.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Nu’aim bin Hammad Al Khuza’i hidup pada tahun 146-228 H.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 171-172. Sanad riwayat ini shahih. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 184.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Basyr Al Haafi hidup pada tahun 151-227 H.</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 172. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 185.</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> Ahmad bin Nashr Al Khuza’i meninggal tahun 231 H.</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 173. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 186-187.</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> Qutaibah bin Sa’id hidup tahun 150-240 H.</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> QS. Thoha: 5.</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 174. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 187.</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> Abu Ma’mar Al Qutai’iy meninggal tahun 236 H.</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 174-175. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 188.</p>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> ‘Ali bin Al Madini meninggal tahun 234 H.</p>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 175. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 188-189.</p>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> Ishaq bin Rohuwyah hidup antara tahun 166-238 H</p>
<p><a href="#_ftnref17">[17]</a> QS. Thoha: 5.</p>
<p><a href="#_ftnref18">[18]</a> Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghoffar, hal. 177. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 191</p>
<p><a href="#_ftnref19">[19]</a> QS. Thaha: 5.</p>
<p><a href="#_ftnref20">[20]</a> Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, hal. 179. Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 194.</p>
<p><a href="#_ftnref21">[21]</a> Idem</p>
<br />Filed under: <a href='http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/category/aqidah/'>Aqidah</a>, <a href='http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/category/fiqh/'>Fiqh</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/manhajparashalafussholih.wordpress.com/434/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/manhajparashalafussholih.wordpress.com/434/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/manhajparashalafussholih.wordpress.com/434/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/manhajparashalafussholih.wordpress.com/434/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/manhajparashalafussholih.wordpress.com/434/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/manhajparashalafussholih.wordpress.com/434/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/manhajparashalafussholih.wordpress.com/434/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/manhajparashalafussholih.wordpress.com/434/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/manhajparashalafussholih.wordpress.com/434/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/manhajparashalafussholih.wordpress.com/434/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/manhajparashalafussholih.wordpress.com/434/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/manhajparashalafussholih.wordpress.com/434/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/manhajparashalafussholih.wordpress.com/434/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/manhajparashalafussholih.wordpress.com/434/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manhajparashalafussholih.wordpress.com&amp;blog=13180136&amp;post=434&amp;subd=manhajparashalafussholih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/2010/05/29/di-manakah-alloh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7858978ea34282df8be0bcf95f2d041e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">manhajparashalafussholih</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Mengangkat Tangan Ketika Berdo&#8217;a</title>
		<link>http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/2010/05/28/hukum-mengangkat-tangan-ketika-berdoa/</link>
		<comments>http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/2010/05/28/hukum-mengangkat-tangan-ketika-berdoa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 May 2010 01:43:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlaq Dan Adab]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/?p=430</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin –rahimahullah- pernah ditanyakan, “Bagaimanakah kaedah (dhobith) mengangkat tangan ketika berdo’a?” Beliau –rahimahullah- menjawab dengan rincian yang amat bagus : Mengangkat tangan ketika berdo’a ada tiga keadaan : Pertama, ada dalil yang menunjukkan untuk mengangkat tangan. Kondisi ini menunjukkan dianjurkannya mengangkat tangan ketika berdo’a. Contohnya adalah ketika berdo’a setelah shalat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manhajparashalafussholih.wordpress.com&amp;blog=13180136&amp;post=430&amp;subd=manhajparashalafussholih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://manhajparashalafussholih.files.wordpress.com/2010/05/berdoa_web1.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-431" title="berdoa_web1" src="http://manhajparashalafussholih.files.wordpress.com/2010/05/berdoa_web1.jpg?w=250&#038;h=180" alt="" width="250" height="180" /></a></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin –rahimahullah- pernah ditanyakan, “<em>Bagaimanakah kaedah (dhobith) mengangkat tangan ketika berdo’a?</em>”</p>
<p>Beliau –rahimahullah- menjawab dengan rincian yang amat bagus :</p>
<p><strong>Mengangkat tangan ketika berdo’a ada tiga keadaan :</strong></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Pertama</strong></span>, ada dalil yang menunjukkan untuk mengangkat tangan. Kondisi ini menunjukkan dianjurkannya mengangkat tangan ketika berdo’a. Contohnya adalah ketika berdo’a setelah shalat istisqo’ (shalat minta diturunkannya hujan). Jika seseorang meminta hujan pada khutbah jum’at atau khutbah shalat istisqo’, maka dia hendaknya mengangkat tangan. Juga contoh hal ini adalah mengangkat tangan ketika berdo’a di Bukit Shofa dan Marwah, berdo’a di Arofah, berdo’a ketika melempar Jumroh Al Ula pada hari-hari tasyriq dan juga Jumroh Al Wustho.</p>
<p>Oleh karena itu, ketika menunaikan haji ada enam tempat untuk mengangkat tangan : [1] ketika berada di Shofa, [2] ketika berada di Marwah, [3] ketika berada di Arofah, [4] ketika berada di Muzdalifah setelah shalat shubuh, [5] Di Jumroh Al Ula di hari-hari tasyriq, [6] Di Jumroh Al Wustho di hari-hari tasyriq.</p>
<p>Kondisi semacam ini tidak diragukan lagi bagi seseorang untuk mengangkat tangan ketika itu karena adanya petunjuk dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai hal ini.</p>
<p><span id="more-430"></span></p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Kedua</strong></span>, tidak ada dalil yang menunjukkan untuk mengangkat tangan. Contohnya adalah do’a di dalam shalat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a istiftah : <em>Allahumma ba’id baini wa baina khothoyaya kama ba’adta bainal masyriqi wal maghribi</em> …; juga membaca do’a di antara dua sujud : <em>Robbighfirli</em>; juga berdo’a ketika tasyahud akhir; namun beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengangkat tangan pada semua kondisi ini. Begitu juga dalam khutbah Jum’at. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a namun beliau tidak mengangkat kedua tangannya kecuali jika meminta hujan (ketika khutbah tersebut).</p>
<p>Barangsiapa mengangkat tangan dalam kondisi-kondisi ini dan semacamnya, maka dia telah terjatuh dalam perkara yang diada-adakan dalam agama (alias bid’ah) dan melakukan semacam ini terlarang.</p>
<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Ketiga</strong></span>, tidak ada dalil yang menunjukkan mengangkat tangan ataupun tidak. Maka hukum asalnya adalah mengangkat tangan karena ini termasuk adab dalam berdo’a.</p>
<p>Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “<em>Sesunguhnya Allah Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya, jika hamba tersebut menengadahkan tangan kepada-Nya , lalu kedua tangan tersebut kembali dalam keadaan hampa..</em>”<a href="#_edn1">[1]</a></p>
<p>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah menceritakan seseorang yang menempuh perjalanan jauh dalam keadaan kusut dan penuh debu, lalu dia mengangkat kedua tangannya ke langit seraya mengatakan : “Wahai Rabbku! Wahai Rabbku!” Padahal makanannya itu haram, pakaiannya haram, dan dia dikenyangkan dari yang haram. Bagaimana mungkin do’anya bisa dikabulkan?<a href="#_edn2">[2]</a></p>
<p>Dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan mengangkat kedua tangan sebagai sebab terkabulnya do’a.</p>
<p>Inilah pembagian keadaan dalam mengangkat tangan ketika berdo’a. Namun, ketika keadaan kita mengangkat tangan, apakah setelah memanjatkan do’a diperbolehkan mengusap wajah dengan kedua tangan?</p>
<p><strong>Yang lebih tepat</strong> adalah <strong>tidak mengusap wajah</strong> dengan kedua telapak tangan sehabis berdo’a karena hadits yang menjelaskan hal ini adalah hadits yang lemah (dho’if)<a href="#_edn3">[3]</a> yang tidak dapat dijadikan hujjah (dalil). Apabila kita melihat seseorang membasuh wajahnya dengan kedua tangannya setelah selesai berdo’a, maka hendaknya kita jelaskan padanya bahwa yang termasuk petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tidak mengusap wajah setelah selesai berdo’a karena hadits yang menjelaskan hal ini adalah hadits yang lemah (dho’if).</p>
<p><strong>[<em>Liqo’at Al Bab Al Maftuh</em>, </strong><strong>Syaikh Muhammad bin Sholih Al 'Utsaimin, kaset no. 51]</strong></p>
<p>Artikel <a href="/undefined/" target="_blank">www.rumaysho.com</a></p>
<p>Muhammad Abduh Tuasikal</p>
<hr />
<p><a href="#_ednref1">[1]</a> Lafazh hadits yang dimaksudkan adalah :</p>
<p style="text-align:center;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا</span></p>
<p>“Sesunguhnya Rabb kalian tabaroka wa ta’ala Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya, jika hamba tersebut menengadahkan tangan kepada-Nya , lalu kedua tangan tersebut kembali dalam keadaan hampa.” (HR. Abu Daud no. 1488 dan At Tirmidzi no. 3556. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud mengatakan bahwa hadits ini shohih)</p>
<p dir="rtl">
<p><a href="#_ednref2">[2]</a> HR. Muslim no. 1015</p>
<p><a href="#_ednref3">[3]</a> Hadits yang dimaksudkan adalah dari Umar bin Khothob radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,</p>
<p style="text-align:center;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ فِى الدُّعَاءِ لَمْ يَحُطَّهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ.</span></p>
<p>“<em>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mengangkat tangan ketika berdo’a, beliau tidak menurunkannya hingga beliau mengusap wajahnya dengan kedua tangannya</em>.”</p>
<p>Mengenai hadits ini, seorang pakar hadits terkemuka yaitu Abu Zur’ah mengatakan, “<em>Hadits ini adalah hadits mungkar. Saya takut hadits ini tidak ada asalnya.</em>” (Lihat ‘Ilalul Hadits, hal. 156, Asy Syamilah)</p>
<p>Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil no. 433 mengatakan bahwa hadits ini <strong>dho’if</strong> (lemah).</p>
<br />Filed under: <a href='http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/category/akhlaq-dan-adab/'>Akhlaq Dan Adab</a>, <a href='http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/category/fiqh/'>Fiqh</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/manhajparashalafussholih.wordpress.com/430/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/manhajparashalafussholih.wordpress.com/430/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/manhajparashalafussholih.wordpress.com/430/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/manhajparashalafussholih.wordpress.com/430/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/manhajparashalafussholih.wordpress.com/430/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/manhajparashalafussholih.wordpress.com/430/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/manhajparashalafussholih.wordpress.com/430/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/manhajparashalafussholih.wordpress.com/430/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/manhajparashalafussholih.wordpress.com/430/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/manhajparashalafussholih.wordpress.com/430/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/manhajparashalafussholih.wordpress.com/430/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/manhajparashalafussholih.wordpress.com/430/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/manhajparashalafussholih.wordpress.com/430/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/manhajparashalafussholih.wordpress.com/430/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=manhajparashalafussholih.wordpress.com&amp;blog=13180136&amp;post=430&amp;subd=manhajparashalafussholih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://manhajparashalafussholih.wordpress.com/2010/05/28/hukum-mengangkat-tangan-ketika-berdoa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7858978ea34282df8be0bcf95f2d041e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">manhajparashalafussholih</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://manhajparashalafussholih.files.wordpress.com/2010/05/berdoa_web1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">berdoa_web1</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
